![]() |
| Indra Sakti Nauli (Alm ) |
Padang Editor - menandai genap 100 hari kepergian Indra Sakti Nauli, wartawan senior yang wafat pada 13 Oktober 2025. Waktu telah berjalan, namun jejak keteladanan dan kehilangan itu tidak pernah benar-benar menjauh.Selasa, 20 Januari 2026 menandai genap
Indra dimakamkan pada 14 Oktober 2025 di pandam pekuburan Jirek, Subarang Padang, usai disalatkan di masjid dekat rumah duka, Kompleks Adinegoro Blok D-14, Batang Kabuang Gantiang, Koto Tangah. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong—bagi keluarga, sahabat, dan dunia jurnalistik Sumatera Barat.
Wartawan Humanis dengan Ketajaman Senyap
Indra Sakti Nauli tidak hanya dikenal sebagai wartawan senior, tetapi juga penjaga nurani pers. Ia menulis dengan ketenangan, namun tegas menguji kekuasaan. Dalam banyak laporannya, ia menghadirkan suara kelompok pinggiran dan menempatkan kebenaran sebagai kompas utama.
Tidak ada slogan, tidak ada ingar-bingar. Hanya kerja sunyi yang konsisten. Ia percaya, jurnalisme adalah moralitas—bukan sekadar profesi.
Pengabdian di Dunia Pendidikan
Di luar redaksi, Indra mengabdikan dirinya dalam pendidikan. Ia aktif sebagai anggota Pengawas Yayasan Syarikat Oesaha (YSO) Adabiah Padang, dan bersama sang istri, Helma Tuti, mengelola TK Islam Smart di Kompleks Cendana, Mata Air.
Bagi ratusan anak didiknya, ia bukan “Pak Guru”. Mereka memanggilnya “Ayah”—panggilan tulus lahir dari kedekatan dan kasih sayang.
“Kami belajar sambil bermain. Ada English for Children, mengaji metode Kibar, dan salat Dhuha setiap hari,” kenang Helma Tuti. Anak-anak diajarkan membaca dengan metode Abiba hingga dapat membaca dalam tiga bulan, serta menulis dan berhitung dalam suasana ceria.
Kini, sosok “Ayah” itu telah pergi. Namun nilai kesabaran, empati, dan cinta pada pengetahuan yang ia semai tetap tumbuh di hati anak-anak itu.
Duka dari Negeri Sakura
Di ujung tahun 2025, belasungkawa juga datang dari sahabat almarhum, Takuya Hasegawa, warga negara Jepang sekaligus peneliti politik yang bertugas di Kedutaan Jepang di Jakarta. Ia datang ke rumah duka bersama Makpen, Maknaih, dan Makpong, disambut Helma Tuti dengan penuh haru.
Takuya memanjatkan doa menurut keyakinannya—sebuah penghormatan lintas bangsa untuk sahabat yang sangat dihormatinya.
Seratus Hari untuk Mengenang Jejak Kejujuran
Seratus hari ini menjadi momen refleksi. Indra Sakti Nauli telah tiada, tetapi etosnya tetap hidup:
menulis dengan hati, berpihak pada kebenaran, dan setia pada nurani.
Ia wartawan humanis, pendidik penuh kasih, sahabat bagi banyak orang, dan salah satu penulis feature terbaik dari Ranah Minang.
Selamat jalan, Indra Sakti Nauli.
Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, dan semoga kami yang ditinggalkan mampu meneruskan api kecil yang kau rawat sepanjang hidup—api kebenaran
**


0 Komentar