Revitalisasi SMPN 9 Pariaman Rp3,7 Miliar Disorot, Kadisdik: Tak Ada Toleransi Pekerjaan Menyimpang

 


Pariaman Editor — Proyek Revitalisasi SMP Negeri 9 Pariaman senilai Rp3,738 miliar menjadi sorotan publik. Di tengah harapan besar terhadap peningkatan kualitas sarana pendidikan, sejumlah temuan di lapangan memunculkan perhatian terkait mutu pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan.


Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 yang bersumber dari APBN tersebut mencakup rehabilitasi berbagai fasilitas sekolah, mulai dari ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, aula, ruang administrasi hingga ruang kegiatan siswa. Pekerjaan dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan masa kerja 150 hari kalender.

Wakil Kepala SMPN 9 Pariaman Bidang Kesiswaan, Davit Saputra, S.Pd.

 mengatakan pekerjaan telah memasuki bulan ketiga sejak dimulai pada April 2026.

"Kurang lebih ada 17 ruangan yang direhabilitasi, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan dan mushalla. Setelah pekerjaan fisik selesai, rencananya juga akan ada bantuan pengadaan mobiler untuk mendukung kegiatan belajar mengajar," ujarnya.

Namun dalam peninjauan lapangan, ditemukan beberapa bagian pekerjaan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius sebelum proyek memasuki tahap penyelesaian.

Salah satu temuan berada pada bagian atas bangunan yang menunjukkan hasil plesteran tidak merata di sisi dalam. Selain itu, terdapat retakan pada slof gantung dan bagian ujung struktur yang dinilai belum memiliki ikatan tulangan yang sempurna dengan kolom praktis.

Menanggapi hal tersebut, Roy Ahmad Suradi yang memperkenalkan diri sebagai Konsultan Perencana menjelaskan bahwa bagian plesteran yang dipersoalkan nantinya akan tertutup plafon sehingga tidak termasuk pekerjaan finishing.


Sementara untuk retakan dan sambungan tulangan, menurutnya sudah disiapkan langkah perbaikan teknis.

"Bagian ujung akan dibuka kembali, tulangan diperkuat dan diikat sesuai kebutuhan, kemudian dilakukan pengecoran ulang agar sesuai dengan metode perbaikan yang direncanakan," jelasnya.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada pekerjaan pembesian. Pada beberapa titik terlihat pemasangan begel atau sengkang yang kurang rapi serta ikatan kawat bendrat yang dinilai belum maksimal.

Praktisi konstruksi menilai kondisi tersebut tidak boleh diabaikan karena pembesian merupakan elemen utama yang menentukan kekuatan struktur bangunan. Kesalahan pada tahapan ini dapat berpengaruh terhadap kualitas konstruksi setelah pengecoran dilakukan.

Karena itu, setiap ketidaksesuaian harus diperbaiki sebelum memasuki tahapan pekerjaan berikutnya.

Kadisdik Beri Peringatan Keras

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Hertati Taher, SE, menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat wajib bekerja sesuai spesifikasi teknis dan tidak boleh menurunkan standar mutu pekerjaan.

"Tidak ada toleransi terhadap pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis. Jika ditemukan kekurangan atau penyimpangan, harus segera diperbaiki. Bila perlu ditolak sebelum pembayaran ataupun sebelum serah terima pekerjaan," tegas Hertati.

Menurutnya, dana revitalisasi yang digunakan berasal dari uang negara sehingga setiap tahapan pekerjaan harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan transparan.

"Setiap rupiah uang negara harus menghasilkan bangunan yang berkualitas. Jangan sampai ada pekerjaan asal jadi. Yang dibangun ini adalah fasilitas pendidikan yang digunakan anak-anak setiap hari," katanya.

Hertati juga mengingatkan agar pengawasan difokuskan pada pekerjaan struktur seperti pondasi, slof, kolom, balok, pembesian dan pengecoran yang berkaitan langsung dengan keselamatan bangunan.

"Pengawas dan konsultan harus menjalankan fungsinya secara maksimal. Jangan membiarkan pekerjaan yang berpotensi menurunkan mutu bangunan," tegasnya.

Daerah Rawan Gempa, Mutu Tak Boleh Ditawar

Pentingnya pengawasan proyek semakin relevan mengingat Sumatera Barat merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempa cukup tinggi.

Dalam kondisi tersebut, kualitas pekerjaan struktur menjadi aspek yang tidak dapat ditawar. Mulai dari pemasangan tulangan, jarak sengkang, sambungan besi, mutu beton hingga proses pengecoran harus benar-benar mengikuti spesifikasi teknis yang telah direncanakan.

Kesalahan kecil dalam pekerjaan struktur berpotensi menimbulkan risiko besar di masa mendatang, terutama pada bangunan sekolah yang digunakan ratusan siswa dan tenaga pendidik setiap hari.

Masyarakat Minta Pengawasan Ketat

Sejumlah warga Kota Pariaman berharap proyek revitalisasi tersebut diawasi secara ketat hingga selesai.

"Kalau anggarannya miliaran rupiah, kualitasnya juga harus miliaran. Jangan sampai ada pekerjaan yang asal jadi. Ini sekolah tempat anak-anak belajar setiap hari," ujar Rudi, warga Pariaman Selatan.

Senada dengan itu, tokoh masyarakat Yulidar meminta setiap temuan di lapangan segera ditindaklanjuti tanpa ditutup-tutupi.

"Kalau ada yang kurang sesuai spesifikasi, segera diperbaiki. Bangunan sekolah harus kuat, aman dan tahan lama," katanya.

Masyarakat berharap revitalisasi SMPN 9 Pariaman tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga menghasilkan bangunan yang memenuhi standar teknis, aman terhadap risiko bencana, serta mampu menunjang kualitas pendidikan dalam jangka panjang. Dengan anggaran mencapai Rp3,7 miliar, publik menuntut transparansi, akuntabilitas, dan mutu pekerjaan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Posting Komentar

0 Komentar