Rp36 Miliar Habis, Masjid Terapung Pariaman Masih di Fondasi

 

pemerintah telah menanam 148 tiang dengan biaya Rp21 miliar. Artinya, Rp36 miliar sudah melebur hanya untuk pekerjaan fondasi.

Pariaman.Editor – Pembangunan Masjid Terapung Kota Pariaman kembali memantik sorotan. Meski sudah mengucurkan dana total Rp36 miliar sejak dimulai 2018, proyek yang digadang sebagai ikon wisata religius itu masih berkutat pada pemancangan tiang baja, tanpa progres signifikan yang terlihat di lapangan.

Dinas PUPR Kota Pariaman menegaskan tahun ini pemerintah kembali menganggarkan Rp15 miliar untuk pekerjaan tahap dua. Seluruh dana itu, seperti tahap pertama, kembali habis untuk pemancangan 300 tiang baja.

“Pembangunan tahap dua masih sama dengan tahap satu, fokus pada pemancangan tiang,” kata Kabid Tata Ruang dan Penataan Bangunan, Nopriadi Sukri.

Sebelumnya, pada tahap pertama, pemerintah telah menanam 148 tiang dengan biaya Rp21 miliar. Artinya, Rp36 miliar sudah melebur hanya untuk pekerjaan fondasi.

Target 2023 Melenceng – Proyek Diprediksi Molor Panjang

Meski Pemkot menargetkan pemancangan seluruh tiang selesai pada 2020 dan bangunan rampung 2023, hingga kini proyek landmark ini berubah menjadi deretan angka anggaran tanpa wujud fisik yang kuat.

Pada masa pemerintahan 2013–2018, Walikota Mukhlis Rahman bahkan menyebut total kebutuhan pembangunan mencapai Rp135 miliar, dilakukan bertahap karena tingginya biaya konstruksi di atas laut.

“Pemerintah pusat tidak akan membantu karena ini aset daerah. Kita upayakan cari pihak ketiga,” ujarnya.

Mukhlis juga mendorong DPRD agar menyetujui alokasi Rp30 miliar tiap tahun, meski hingga kini belum tampak terobosan berarti dalam mempercepat realisasi.

Ikon Wisata atau Lubang Anggaran

Pembangunan Masjid Terapung di Desa Pauah sejatinya dirancang sebagai simbol Pariaman sebagai kota wisata, religius, dan berbudaya. Namun, dengan pola pengerjaan yang berulang dan fokus tunggal pada pemancangan, publik kini mempertanyakan


**


Posting Komentar

0 Komentar