Riwayat Jurnalistikku Dari Masa Ke Masa


Catatan: Pinto Janir

Percakapan ini terjadi sekitar 35 tahun silam di ruang Redaksi Harian Semangat jalan Imam Bonjol nomor 50 Padang. 

"Pinto, Inyik Nasrul Siddik butuh wartawan muda untuk koran Canang yang baru beliau dirikan “, kata Pak Effendi Koesnar sambil melirik ke Pak Roesli Syaridin, “ kami berdua menyebutkan nama Pinto pada Inyik. Inyik setuju. Inyik minta Pinto supaya menemuinya di rumah beliau jalan Bangka nomor 22 Wisma Warta Ulakkarang”

Waktu itu sekitar akhir tahun 1988. Saya baru saja tamat dari SMA Negeri Padang. Persis  baru  menyelesaikan Ospek di Fisipol Universitas Ekasakti Padang. 

berkisah ke masa belakang... 

Saya mengenal dunia jurnalistik bermula dari Harian Semangat.

Begitu tamat SD tahun 82, saya ‘melamar’ jadi wartawan ke koran ini. Dengan keluguan bocah ingusan  yang saya ojokkan adalah ijazah SD saya ke Pak MS Sukma Djaja. 

Pak Sukma  badannya tinggi berdegap. Ia Pemimpin Redaksi di koran tua yang pernah dipimpin sastrawan AA Navis.  

Di samping Pak Sukma, ada Pak Zakaria Yamin alias Pak Jek. Dua nama di atas, nama nama tokoh besar yang mewarnai alam jurnalistik Indonesia.

Waktu itu mereka memandang saya dengan raut wajah bergarah. 

Mungkin saja beliau beliau ini berpikir, ah masak bocah ingusan mau melamar jadi wartawan? 

Sungguh, jadi wartawan adalah impian saya sejak kanak-kanak. 

Lanjut ke masa lebih lama... Begini ceritanya:

Di kampung saya, Alai Gunungpangilun ada namanya Pak Muntasir. Ia wartawan dan juga kerja di Deppen. 

Pak Muntasir kemana-mana acap menjinjing kamera.

Kalau ada pejabat datang ke kampung saya, Pak Muntasir itu habis memotret selalu duduk di muka dan sangat dihargai banyak orang. 

Dari Pak Muntasirlah saya terinspirasi menjadi wartawan.

Hobi saya memang mengarang. Biasanya anak SD seumuran saya hanya menulis satangah halaman buku Letjes. Saya beda. Saya sudah bisa menulis sampai 2 halaman benar.

Tiba tiba Pak Sukma mengejutkan lamunan saya. 

“Eh, kenapa kamu termenung. Ini duit, tolong belikan saya rokok Gudang Garam merah ya”.

Saya tergagau sesaat.

Saya tak lantas nurut begitu saja... 

"Saya mau jadi wartawan Pak... 

(Dalam hati saya agak kesal saketek, awak ka jadi wartawan disuruh lo pai bali rokok, e yayai... ) 

"Iya... Nanti kita bicarakan, kamu pergilah ke warung depan itu, ini duitnya," tampaknya Pak Sukma arif membaca penolakan saya untuk membelikannya rokok

Baru saya bergegas ke warung depan. Saya serahkan rokok itu ke Pak Sukma. 

Saya masih ingat, lagak Pak Sukma merokok. Rokok kretek itu  terselip di ujung bibirnya paling kiri. 

“Benar kamu mau jadi wartawan?” tanya Pak Sukma sekali lagi

Pertanyaan Pak Sukma itu tidak saya jawab dengan kata kata tapi dengan karya.

 “ Ini berita saya Pak”, ucap saya .Lekas lekas saya serahkan sebuah berita tentang pertandingan tenis meja antar RT di kampung saya Gunungpangilun.

(Oh ya. Saya juga ingat, ke Semangat saya ditemani Edwar. Dipanggil Uwar. Uwar anak Pak Munap. Rang Gunungpangilun. Usianya sekitar 3 tahun di atas saya. Tapi ia teman sepermainan saya. Makanya, saya ber-Uwar saja padanya). 

Pak Sukma tampak mengangguk-angguk. Lalu beliau memanggil Pak Roesli Syaridin yang belakangan saya ketahui menjabat redaktur olahraga

Pak Roesli akrab dipanggil dengan sebutan Pak Soeli. 

“ Pak Suli, anak ini mau jadi wartawan katanya. Ini beritanya!”. 

ama pula Pak Suli mematut berita itu.

“ Nama aslinya kok payah benar lidah menyebutnya. Patah patah lidah ambo mambaconyo”, ujar Pak Suli membaca nama “Friheddapinta” di bawah berita tersebut. 

“ Panggilan kamu siapa?” tanya Pak Suli kemudian. 

Saya jawab, “ Pinto “. 

Lalu, “ Nama orangtua?” tanya Pak Suli lagi. 

Jawab saya: “ Janir”

Pak Suli mengangguk-angguk. Sementara Pak Sukma sudah duduk kembali di balik meja kerjanya. 

Gagah benar Pak Sukma di mata saya. Gayanya asyik. 

Sambil memeriksa berita, rokok kretek terselip  gagah di ujung bibirnya.

“ Ha, begini saja, mulai kini nama kamu Pinto Janir bukan Friheddapinta. Disingkat PJ”, tiba tiba Pak Suli berkata sambil membawa berita saya tadi ke mejanya. 

Besoknya, berita itu benar-benar terbit di halaman olahraga Harian Semangat.Di bawah berita itu 

tertera nama kode PJ.

Ingat, peristiwa itu sekitar tahun 1982. Bocah yang nulis berita. Itulah berita pertama saya. Berita olahraga! 

Ini pula yang membawa saya mengenal uda Nofi Sastra, asisten redakturnya Pak Suli. 

Saya kundang-kundang terus berita pertama saya itu. Saya pelanggakkan ke orang sekampung, bahwa saya jadi ‘wartawan’ juga akhirnya.

Di mana-mana sampai kini nama populer saya itu ya Pinto Janir. Itu nama pemberian Pak Suli (alm). 

Terima kasih Pak Suli. Ini hari kukirimkan al-fatihah kepadamu...

Sejak SMP (saya sekolah di SMP Negeri 5 Padang) hingga SMA ( di SMA 3 Padang), sambil sekolah saya terus menulis berita di harian Semangat dan terus mendapat jabatan sebagai pemimpin redaksi di mading sekolah, baik di SMP negeri 5, maupun di SMA Negeri 3 Padang.

Bahkan, dari honor menulis itu, saya agak kurang meminta jajan pada orangtua.

Olala, panjang benar saya berkisah-kisah agaknya. Yang jelas, pada tahun 1988 itu saya benar-benar menemui Inyik Nasrul Siddik di rumahnya, di jalan Bangka itu tadi.  

****

Baiklah, kembali saya narasikan masa  berpuluh tahun silam itu... 

Ialah masa-masa pertemuan saya dengan Inyik Nasrul Siddik di rumahnya.

Sebulan setelah percakapan dengan Pak Effendi dan Pak Suli, baru saya temui Inyik ke rumahnya

Seingat saya, waktu itu Harian Semangat dipimpin Bang Makmur Hendrik, wartawan nan sastrawan.

Bang Makmur Novelis. Ia pengarang Novel Tikam Samurai yang terkenal itu. 

Sekitar tahun tahun itu pula saya mengenal wartawan Khairul Jasmi, Erion Saad, Edi Utama, Cici Westri Goesti, Rhian D Kinchai ,Afridon dan sejumlah nama wartawan lainnya. 

Kala saya tiba, orang sedang ramai rupanya di rumah Inyik. Tentulah orang Mingguan Canang semua.Waktu itu, mungkin orang Canang sedang rapat redaksi.

“Pak, awak disuruh Pak Suli dan Pak Effendi menemui Apak.Namo awak Pinto Janir”, kata saya begitu jumpa Inyik Nasrul Siddik.

"Oo...iyo. Iko namo yang acok disabuik Pak Fendi dan Pak Suli" , kata Inyik menyambut salam saya. Inyik salah seorang Pendiri Harian Singgalang. Inyik juga pernah duduk di Lembaga Dewan Pers dan menerima berbagai penghargaan dari PWI Pusat. 

Gaya bersalam Inyik hangat benar. Beliau senyum. Senyum. Senyum yang sangat kharismatik. Inyik bertanya, apa saya bersedia bergabung dengan Mingguan Canang? 

Pertanyaan Inyik tidak saya jawab dengan kata kata. Saya jawab 

dengan menyerahkan cerita bersambung serial anak muda yang sudah saya jilid tebal.

Ini kelak menjadi Cerber pertama saya yang dimuat hingga 12 tahun di Mingguan Canang tanpa henti.

Bahkan bang Makmur Hendrik pernah berkata kepada saya bahwa saya adalah penulis Cerber paling lama di surat kabar.

Kembali ke narasi di Rumah Inyik... 

“Harris.....Harris.....Alwi...Alwi...” terdengar oleh saya Inyik memangggil nama Harris  Effendi Thahar yang kelak bertahun kemudian menyandang gelar Profesor di bidang sastra. 

Juga Alwi Karmena. Bang Alwi banyak jagonya. Jago ngarang . Jago bikin cerpen. Jago bikin berita beraroma feature. Jago main teater. Jago pula melukis. 

Bang Harris dan Bang Alwi, kelak menjadi abang yang sangat dekat dengan saya. 

“ Ini Pinto Janir”, Inyik mengenalkan saya pada Bang Harris dan Bang Alwi. Lalu Inyik meneruskan  kumpulan cerita bersambung saya tadi ke Bang Harris. 

Kelak di Mingguan Canang, serial itu terbit rutin sejak tahun 1988 hingga saya ‘berhenti’ di Canang tahun 2000. 

Serial Topan, ternyata digandrungi pembaca muda Canang. Selain serial Topan, saya juga bikin kolom “Kamu Menanyakan Topan yang Jawab”.

Kolom ini juga banyak peminat pembaca muda Canang.

Dan.....

“Pinto, besok temui saya di kantor Canang di jalan S Parman Lolong”, ujar Inyik Nasrul Siddik. 

Kepada Inyik Nasrul Siddik, saya tak memanggil beliau dengan sebutan Inyik, tapi saya “ber-apak”.

Saya dengar belakangan, Bang Alwi Karmena, Bang Harris, dan Pak Yurman Dahwa (Redaktur Pelaksana Canang) memanggil Inyik dengan “ Da Nas...”.

Setelah bertemu dengan Pak Nasrul Siddik, bang Harris, Bang Alwi dan Pak Man (Yurman Dahwat), saya langsung ‘mempelajari’ dan meriset halaman demi halaman Mingguan Canang

Saya amati mingguan ini dan saya simak. Saya mendapat kesimpulan, Canang belum memberi tempat kepada pembaca remaja/muda/pelajar. 

Saya ingin Canang juga dibaca oleh kalangan muda atau pelajar. Saya melihat pangsa pasar anak muda dan sekolahan berpeluang besar untuk mendongkrak oplah Canang.

Lalu saya buat proposal halaman baru di Canang

 Halaman itu saya beri nama ‘dari Sekolah ke Sekolah’. Saya singkat dSkS. 

Pada halaman dSkS ada banyak rubrik. Untuk cerita pendek yang dikirim  pelajar, saya berinama “Ceria” yakni akronim dari CERita mIni remajA.

 Pada masa itu, anak-anak muda suka menyingkat-nyingkat kata. 

Lalu saya bikin kolom Bursa Kata Orang Muda (BKOM).

Pada dSkS ada juga kolom puisi remaja.

Ada laporan prestasi sekolah-sekolah. Ada berita pelajar berprestasi, atau tulisan kiriman Pak dan Buk Guru

Kemudian ada Cerbung Topan serial anak muda dan kolom Kamu Menanyakan Topan yang Jawab (KMTyJ). 

Untuk menghimpun pembaca Canang keseluruhan, saya ajukan juga kolom ‘sahabat pena’ yang saya labeli dengan “ Canang Fans Club”.

Saya mulai kerja di Mingguan Canang ketika tiras Mingguan ini baru sekitar 3 ribuan.

Suatu masa Mingguan Canang menjadi Mingguan terbesar di Sumatera dari segi oplah yakni mencapai 22 ribu eksemplar.

Oplah mana yang hingga kini (setahu saya) belum sanggup disaingi surat kabar harian lokal kita.

Besoknya proposal halaman baru itu saya serahkan ke Pak Nasrul Siddik di kantor redaksi Canang nan di Lolong itu. 

Indak banyak benar  kata Pak Nasrul sehabis membaca proposal saya itu. 

“ Iko rancak, ko. Halaman ini mulai terbit minggu besok. Ide Pinto untuk buka halaman baru ini harus kita mulai. Ambo akan minta Yurman Dahwat untuk menyediakan halamannya. Apa Pinto sanggup menyiapkan halaman ini?”.

“Sanggup Pak !” jawab saya tanpa saya sadari waktu menyiapkan berita dengan Deadline Canang hanya tinggal 3 hari saja lagi. 

Habis, berkata begitu saya langsung memburu bahan.

Target saya pertama adalah SMA Negeri 3 Padang, tempat mana saya pernah bersekolah

Laporan catatan prestasi SMA Negeri 3 Padang menjadi laporan pertama di dSkS-Canang

Alhasil, saya tepati janji saya pada Apak Nasrul. Bahan saya serahkan lengkap ke Pak Nasrul.

“Pinto yang langsung jadi redaktur halaman ini!” ujar Pak Nasrul pada saya, yang diiyakan oleh Pak Man.

Ondeh, menjadi redaktur? Inyik memercayakan pada saya? 

Usia saya pada waktu itu baru akan ke 20 tahun. Usia 20 tahun diangkat jadi Redaktur di masa itu adalah sesuatu banget gitu...

Tapi, ini saya sanggupi karena saya memang sudah terbiasa bergelut dengan naskah-naskah ketika menjadi pemimpin mading baik semasa SMP maupun semasa SMA. 

Kumpulan naskah bagi saya memang sudah tak asing lagi. 

Jadilah halaman dSkS ‘ngebooming’.Digemari pembaca dari berbagai SMP dan SMA di Sumbar. Meja redaksi yang paling banyak mendapat surat kirim Pak  Pos adalah meja saya.

Ternyata Pak Nasrul mengamati. Dan suatu kali memanggil saya ke ruang kerja beliau.

“Pinto, kalau awak tambah satu halaman lagi untuk dSkS, ba-a?” ujar Pak Nas.

Ha, satu halaman lagi? Bukankah untuk menyiapkan satu halaman satu minggu saja, sudah nyaris tanggal-tanggal sarawa dibuatnya

Apalagi, sambil menyiapkan halaman, saya juga terus aktif mencari berita-berita investigasi.

Karena bagi saya, berpantang berkata tidak bisa maka saya iyakan saja saran Pak Nas itu.

“Jadi, Pak !” jawab saya...

Saya bahagia, halaman dSkS Canang banyak melahirkan penulis, wartawan dan penyair.

Saya bahagia, karena program saya juga didukung Inyik, yakni masuk sekolah ke luar sekolah dengan memberikan pelatihan jurnalistik sekolahan di berbagai SMP dan SMA bahkan ke kampus kampus di Sumbar.

Tujuan saya, selain memberikan pelatihan menulis, juga mengenalkan atau mempromosikan Mingguan Canang ke sekolah dan perguruan tinggi dan mengajak anak muda menulis... 

(Bersambung)


**Pinto Janir


Posting Komentar

0 Komentar