![]() |
| Cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi memicu bencana tanah longsor di sejumlah titik ruas jalan nasional Tapan–Batas Jambi, Kabupaten Pesisir Selatan, |
PESISIR SELATAN, Editor — Cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi memicu bencana tanah longsor di sejumlah titik ruas jalan nasional Tapan–Batas Jambi, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat karena jalur ini merupakan akses penting penghubung Sumatera Barat dengan Provinsi Jambi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 BPJN Sumbar, Gina Lamria Indiarty Tampubolon, S.T., bersama tim penanganan darurat bergerak melakukan pembersihan material longsor dan pemulihan akses jalan agar dapat kembali dilalui masyarakat secara bertahap.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Selasa 20 Oktober 2026, longsor tercatat terjadi di 12 titik. Selain itu, terdapat badan jalan amblas dengan panjang sekitar 250 meter yang membutuhkan penanganan serius untuk mencegah kerusakan semakin meluas.
Salah satu lokasi terdampak berada di Nagari Jangki Ayam, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, tepatnya pada KM 228+100 hingga KM 228+400.
Belasan Alat Berat Dikerahkan
Untuk mempercepat penanganan, tim Satgas dan Swakelola PPK 2.4 BPJN Sumbar mengerahkan belasan unit alat berat, antara lain ekskavator, wheel loader, dan dump truck.
Peralatan tersebut digunakan untuk membersihkan timbunan tanah, bongkahan batu berukuran besar, serta material lain yang menutup badan jalan.
Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan keselamatan pengguna jalan. Sistem buka-tutup jalur juga diterapkan selama proses pembersihan berlangsung.
Upaya ini penting agar mobilitas masyarakat dan distribusi barang tidak terhambat terlalu lama, mengingat ruas Tapan–Batas Jambi memiliki peran strategis dalam konektivitas antardaerah.
DPT 250 Meter Disiapkan untuk Penanganan Permanen
Tidak hanya melakukan pembersihan darurat, BPJN Sumbar juga menyiapkan penanganan lanjutan terhadap badan jalan yang amblas.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembangunan dinding penahan tanah (DPT) sepanjang kurang lebih 250 meter. Struktur tersebut ditujukan untuk memperkuat lereng dan melindungi badan jalan dari risiko pergerakan tanah.
Pembangunan DPT menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan jangka panjang. Namun, pelaksanaannya perlu didukung kajian teknis, kondisi geologi setempat, serta pengawasan mutu pekerjaan agar infrastruktur lebih aman dan mampu menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Menteri PU Tinjau Lokasi Bencana
Dalam perkembangan penanganan bencana tersebut, Menteri Pekerjaan Umum juga dikabarkan meninjau langsung lokasi terdampak pada Oktober 2026 untuk mendorong percepatan pemulihan infrastruktur.
Peninjauan tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya menjaga jalur nasional tetap berfungsi, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada akses Tapan–Batas Jambi untuk kegiatan ekonomi, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari.
Penanganan longsor ini menuntut koordinasi yang kuat antara BPJN Sumbar, pemerintah daerah, petugas lapangan, serta pihak terkait lainnya.
Keselamatan Pengguna Jalan Tetap Diutamakan
Di tengah proses pemulihan, pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi kawasan rawan longsor. Curah hujan tinggi dapat memicu longsor susulan, terutama di kawasan perbukitan dan lereng yang kondisi tanahnya belum stabil.
BPJN Sumbar diharapkan terus memastikan penanganan darurat berjalan efektif, disertai pengawasan terhadap rencana pekerjaan permanen agar hasilnya memenuhi persyaratan teknis dan memberikan perlindungan maksimal bagi pengguna jalan.
Pemulihan ruas Tapan–Batas Jambi bukan sekadar membersihkan material longsor. Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan masyarakat dan mempertahankan konektivitas Sumatera Barat–Jambi.
**Afridon
.


0 Komentar