![]() |
| Pembangunan bendung tersebut menjadi harapan baru bagi petani |
PADANG. Editor— Bendung Limau Manih di Kelurahan Limau Manih, Kecamatan Pauh, Kota Padang Sumatera Barat, yang rusak total diterjang banjir bandang pada akhir November 2025, kini kembali dibangun.
Pembangunan bendung tersebut menjadi harapan baru bagi petani yang selama ini mengandalkan jaringan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air lahan pertanian.
Proyek Pembangunan Bendung Paket 1–Bendung Limau Manih dikerjakan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Padang.
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, pekerjaan memiliki nilai kontrak sekitar Rp7,961 miliar, bersumber dari TKD (Transfer ke Daerah). Penyedia jasa yakni CV Generasi Baru, dengan konsultan pengawas CV Duta Graha Interplan.
Masa pelaksanaan pekerjaan tercatat 138 hari kalender, dengan pekerjaan dimulai pada 21 Juli 2026.
Hingga Rabu (9/9/2026), progres pekerjaan disebut telah mencapai sekitar 22 persen.
Sudah Berulang Kali Rusak
Kerusakan Bendung Limau Manih ternyata bukan kali pertama terjadi. Bendung tersebut disebut telah beberapa kali rusak akibat diterjang banjir bandang.
Direktur CV Generasi Baru, Helva Zulhaj, didampingi Pelaksana Lapangan Ahmad Faisal, mengatakan posisi bendung bahkan beberapa kali dipindahkan untuk mencari lokasi yang lebih aman.
“Awalnya letak bendungan pertama di bawah, kemudian rusak. Pindah lagi ke atas juga hancur dihantam banjir, digeser lagi sedikit ke atas hingga pada lokasi sekarang,” ujar Helva saat ditemui wartawan di lokasi proyek, Rabu (9/9/2026).
Bendung yang terakhir dibangun dan selesai pada 2016 kembali mengalami kerusakan berat setelah diterjang banjir bandang pada akhir November 2025.
Berulangnya kerusakan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Pembangunan kali ini bukan hanya dituntut selesai secara fisik, tetapi juga harus mampu menghadapi kondisi sungai dan ancaman banjir yang berulang.
Batu Besar Hambat Pekerjaan
Ahmad Faisal menjelaskan, pekerjaan utama yang sedang dikebut meliputi penggalian tanah dasar, pembangunan cekdam, serta pembuatan sayap bendung.
Namun, pekerjaan galian menghadapi kendala batu berukuran besar yang berada di area pembangunan.
“Banyak batu besar sehingga agak menghambat percepatan proses pekerjaan galian,” jelas Helva.
Untuk mengatasi kendala tersebut, kontraktor menambah peralatan breaker atau pemecah batu. Langkah itu dilakukan untuk mempercepat pekerjaan yang sebelumnya hanya mengandalkan excavator.
Selain material batu, debit air sungai juga menjadi kendala serius. Kenaikan debit dapat terjadi secara tiba-tiba meskipun di sekitar lokasi proyek tidak turun hujan.
“Kadang air tiba-tiba saja besar, padahal di sini tidak hujan. Hulunya di Gantung Ciri, Kabupaten Solok,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan di dalam badan sungai harus dilakukan dengan memperhitungkan perubahan debit dan keselamatan pekerja.
Kejar Target hingga Tengah Malam
Untuk mengejar target pekerjaan, pihak kontraktor mengaku menambah jam kerja.
“Sudah, dua minggu ini kita bekerja sampai jam 12 malam, mengerjakan besi dan lainnya,” ujar Helva.
Saat ini sekitar 22 orang tenaga kerja terlibat dalam pekerjaan di lapangan. Jumlah tenaga kerja masih berpotensi ditambah mengikuti perkembangan item pekerjaan.
Petani Menunggu Irigasi Pulih
Pembangunan Bendung Limau Manih bukan sekadar proyek konstruksi. Bendung memiliki fungsi penting untuk menaikkan muka air sungai dan mengarahkan air menuju jaringan irigasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian masyarakat.
Karena itu, petani berharap pembangunan tidak hanya mengejar penyelesaian fisik, tetapi benar-benar mengembalikan fungsi irigasi.
Lebih dari itu, pengalaman kerusakan berulang harus menjadi perhatian serius dalam pembangunan kali ini.
Kekuatan konstruksi, fondasi, perubahan debit air secara cepat serta potensi banjir dari kawasan hulu perlu diperhitungkan secara matang.
Dengan nilai proyek mencapai sekitar Rp7,961 miliar, masyarakat tentu berharap pekerjaan menghasilkan bendung yang kuat, aman dan mampu bertahan dalam menghadapi ancaman bencana.
Jangan sampai bendung kembali dibangun, tetapi kembali rusak oleh persoalan yang sama. Anggaran besar harus berujung pada infrastruktur yang benar-benar bermanfaat dan tahan terhadap bencana.
**Afridon


0 Komentar