![]() |
| Proyek revitalisasi SDN 02 Karan Aur, Kota Pariaman, menjadi sorotan publik. Sejumlah temuan di lapangan, mulai dari dugaan beton berpori, pekerja yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), |
PARIAMAN .Editor– Proyek revitalisasi SDN 02 Karan Aur, Kota Pariaman, menjadi sorotan publik. Sejumlah temuan di lapangan, mulai dari dugaan beton berpori, pekerja yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), hingga minimnya pengawasan, memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas pembangunan sekolah tersebut.
Warga menilai proyek yang dibiayai dari anggaran negara itu tidak boleh dikerjakan asal selesai. Apalagi, bangunan sekolah akan digunakan oleh ratusan siswa dan guru setiap hari, sementara Sumatera Barat dikenal sebagai wilayah yang rawan gempa bumi.
Sejumlah tokoh masyarakat yang dimintai tanggapan pada Rabu (10/6/2026) mendesak pemerintah dan instansi terkait segera melakukan audit teknis terhadap kualitas pekerjaan guna memastikan seluruh konstruksi memenuhi standar keselamatan.
Rahmat (52), warga Kota Pariaman, mengatakan indikasi beton berpori tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi kekuatan struktur bangunan.
"Kalau benar ada bagian beton yang keropos atau berongga, harus segera diperiksa secara teknis. Ini sekolah untuk anak-anak, bukan bangunan biasa. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama," tegasnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Yulidar (46), yang menyoroti masih adanya pekerja yang terlihat tidak menggunakan APD saat bekerja di lokasi proyek.
"Keselamatan kerja harus menjadi perhatian. APD bukan sekadar pelengkap, tetapi perlindungan dasar bagi pekerja. Jangan sampai terjadi kecelakaan yang sebenarnya bisa dicegah," ujarnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Andri Saputra menilai lemahnya pengawasan dapat membuka peluang terjadinya penyimpangan kualitas pekerjaan di lapangan.
"Pengawas harus hadir dan aktif. Kalau pengawasan lemah, siapa yang menjamin pekerjaan sesuai spesifikasi teknis, gambar kerja, dan standar mutu yang telah ditetapkan?" katanya.
Pensiunan guru Mulyono (63) juga mengingatkan bahwa kualitas bangunan sekolah berkaitan langsung dengan keselamatan generasi muda.
"Daerah kita rawan gempa. Karena itu bangunan sekolah harus benar-benar kokoh dan memenuhi standar konstruksi. Pemerintah perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum bangunan digunakan kembali," ujarnya.
Masyarakat berharap seluruh temuan yang muncul di lapangan ditindaklanjuti secara terbuka dan profesional. Mereka meminta instansi terkait, konsultan pengawas, konsultan perencana, serta kontraktor pelaksana memberikan penjelasan kepada publik sekaligus memastikan setiap pekerjaan yang tidak sesuai standar segera diperbaiki sebelum proyek diserahterimakan.
Menurut warga, keberhasilan program revitalisasi sekolah tidak cukup diukur dari selesainya pembangunan secara fisik. Yang lebih penting adalah kualitas bangunan yang aman, kuat, dan mampu memberikan perlindungan maksimal bagi siswa dan tenaga pendidik dalam jangka panjang.
"Jangan sampai setelah bangunan ditempati baru muncul masalah. Audit kualitas harus dilakukan sekarang agar masyarakat mendapat kepastian bahwa sekolah yang dibangun dengan uang negara benar-benar layak, aman, dan berkualitas," ujar salah seorang warga.
Desakan audit kualitas ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan program revitalisasi sekolah berjalan sesuai tujuan, yakni menghadirkan fasilitas pendidikan yang aman dan bermutu bagi generasi penerus bangsa.
**Afridon


0 Komentar