SLB Negeri 1 Lengayang Bersolek, Pendidikan Inklusif Kian Berkualitas

 

Program revitalisasi menyeluruh di SLB Negeri 1 Lengayang yang kini tengah berlangsung.


Pesisir Selatan.Editor -Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di daerah. Salah satunya melalui program revitalisasi menyeluruh di SLB Negeri 1 Lengayang yang kini tengah berlangsung.

Pembangunan dan rehabilitasi fasilitas sekolah tersebut ditargetkan rampung pada tahun ajaran baru 2026–2027. Proyek revitalisasi mencakup pembangunan satu ruang kelas baru, rehabilitasi tiga ruang kelas difabel, pembangunan pagar dan gerbang sekolah, drainase baru, hingga sumur resapan demi menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus.


Kepala SLB Negeri 1 Lengayang, Galih Sudiyanto
Bersama rekan Jurnalis Kamis 21.Mai.2026

Pekerjaan fisik dimulai sejak 25 Maret 2026 dengan masa pelaksanaan selama 120 hari kalender. Program ini dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan inklusif sekaligus menghadirkan fasilitas belajar yang lebih manusiawi dan representatif.

Kepala SLB Negeri 1 Lengayang, Galih Sudiyanto, mengatakan revitalisasi tersebut menjadi harapan besar bagi sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana pendidikan.

Kepala SLB Negeri 1 Lengayang, Galih Sudiyanto

Menurutnya, fasilitas yang memadai sangat penting untuk menunjang proses pembelajaran anak-anak difabel agar dapat belajar dengan aman, nyaman, dan lebih percaya diri.

“Selama ini kami terus berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik dengan keterbatasan fasilitas yang ada. Dengan revitalisasi ini, tentu akan sangat membantu proses belajar mengajar serta mendukung tumbuh kembang anak-anak berkebutuhan khusus secara optimal,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan ruang kelas baru dan rehabilitasi ruang difabel bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik, melainkan bentuk nyata perhatian negara terhadap hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di daerah.

“Kami ingin anak-anak merasa sekolah adalah tempat yang ramah, nyaman, dan membangun semangat mereka untuk belajar. Fasilitas yang baik tentu akan berdampak pada motivasi siswa maupun kinerja guru dalam memberikan layanan pendidikan,” tambahnya.

Sementara itu, Pengawas SLB Negeri 1 Lengayang, Irvan Mairiski, menegaskan revitalisasi satuan pendidikan harus berjalan selaras dengan standar keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas bagi peserta didik difabel.

Menurutnya, pengawasan pekerjaan terus dilakukan agar seluruh pembangunan sesuai spesifikasi teknis dan benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi sekolah.

“Revitalisasi ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan khusus. Kita ingin memastikan lingkungan belajar bagi anak berkebutuhan khusus semakin layak, aman, dan mendukung proses pembelajaran yang inklusif,” tegasnya.

Di tengah proses pembangunan yang masih berlangsung, aktivitas belajar mengajar di sekolah tetap berjalan dengan berbagai penyesuaian. Semangat guru dan siswa pun tetap tinggi meski harus beradaptasi dengan kondisi proyek revitalisasi di lingkungan sekolah.

Revitalisasi SLB Negeri 1 Lengayang diharapkan menjadi tonggak baru peningkatan kualitas pendidikan inklusif di Kabupaten Pesisir Selatan, sekaligus menghadirkan wajah baru sekolah yang lebih modern, aman, dan ramah difabel bagi generasi masa depan


**Afridon



Posting Komentar

0 Komentar