Dadap Kosambi: Titik Hitam Pesisir Tangerang

Kawasan Dadap di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang,  sabtun7 Februari  2026

Tangerang,Editor — Kawasan Dadap di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, kembali jadi sorotan publik. Meski pemerintah telah menutup lokalisasi ini sejak penertiban besar-besaran tahun 2016, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas prostitusi terselubung masih membayangi wilayah padat penndudukn tersebut sabtu 7 Februari 2026 Pukul  09.05 Wib



Jejak Hitam “Kampung Maksiat” Pesisir Tangerang

Masyarakat mengenal kawasan ini dengan sebutan Dadap Cheng In, sebuah wilayah pesisir yang awalnya merupakan kampung nelayan. Namun sejak 1990-an, munculnya penginapan murah, warung remang-remang, hingga karaoke liar menjadikan Dadap berubah menjadi lokalisasi terbesar di Tangerang. Sabtu 7 Februari 2026 Pukul 09.03 W


Kedekatannya dengan Bandara Soekarno-Hatta membuat kawasan ini menjadi persinggahan para pekerja bandara, sopir ekspedisi, buruh pelabuhan, hingga pendatang dari berbagai daerah.


Ratusan PSK Pernah Beroperasi

Saat pemerintah melakukan pendataan menjelang pembongkaran tahun 2016, ditemukan fakta mengejutkan:

±472 PSK terdata resmi

±300 PSK freelance yang beroperasi bebas

Total mencapai ±770 PSK

 angka yang menjadikan Dadap sebagai salah satu lokalisasi paling padat di Jabodetabek.

Namun angka tersebut bukan data terkini. Setelah penertiban, sebagian besar PSK pindah, sebagian kembali ke daerah asal, sementara sisanya tetap bertahan dan berpindah-pindah di gang-gang sempit serta rumah kontrakan.

Asal-Usul PSK: Didominasi Jawa Barat

PSK yang pernah menghuni Dadap berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mayoritas:

Jawa Barat (Indramayu, Cirebon, Subang, Karawang)

 menjadi kelompok terbesar.

Jawa Tengah (Tegal, Brebes, Pemalang, Pati, Jepara)

Sumatera (Lampung, Palembang, Medan)

Sulawesi (Makassar, Gorontalo)

Lokal Banten & Tangerang, biasanya freelance.

Jaringan perekrutan dan mami yang mengatur bisnis prostitusi membuat arus PSK ke kawasan ini berlangsung stabil hingga masa penutupan.

Tarif yang Beredar pada Masa Kejayaan

Informasi tarif berikut berasal dari laporan media dan data historis investigasi, bukan kondisi saat ini:

Short Time: Rp150.000 – Rp350.000

Long Time: Rp400.000 – Rp800.000

Freelance: Rp200.000 – Rp500.000

Premium (jarang): Rp1 juta – Rp1,5 juta

Tarif ini beredar pada periode 2000–2014 ketika lokalisasi masih “berjaya”.

Setelah Ditutup, Aktivitas Bergeser

Meski papan penanda lokalisasi sudah raib dan bangunan liar sudah dibongkar, warga menyebut praktik prostitusi masih hidup, namun:

Beroperasi lebih tersembunyi

Menggunakan rumah kontrakan

Memanfaatkan warung remang-remang baru

Dipindahkan melalui jaringan pemandu gelap

Penertiban yang tidak berkelanjutan membuat kawasan Dadap tetap dicap sebagai zona rawan maksiat dan kriminalitas.

Warga Minta Pemerintah Tidak Hanya Operasi Formalitas

Tokoh masyarakat mendesak:

Penertiban rutin

Pengawasan gang sempit

Penutupan penginapan ilegal

Pembinaan sosial berkelanjutan, bukan sekadar operasi sesaat


**



Posting Komentar

0 Komentar