Cilegon Krisis Moral: PSK Mangkal di Simpang Tiga

 

Fenomena maraknya praktik prostitusi di Kota Cilegon semakin memicu keresahan masyarakat

Cilegon Editor – Fenomena maraknya praktik prostitusi di Kota Cilegon semakin memicu keresahan masyarakat. Kota yang dahulu dikenal dengan julukan kota santri, kini oleh sebagian warga disebut telah berubah menjadi “kota maksiat” akibat menjamurnya pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi secara terang-terangan di ruang publik.


Rahmad, warga Ramanuju, Simpang Tiga Cilegon, menyebut perubahan ini terjadi drastis dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu Cilegon itu identik dengan kota santri, agamis, dan berbudaya. Sekarang, julukan itu hilang. PSK berani mangkal di area parkir masjid besar. Ini fakta yang kami lihat sendiri,” ujar Supandi, Sabtu 7 Februari 2026 Pukul 09.39 Wib

Ia menuding aparat ketertiban kota tidak bertindak tegas.

“Satpol PP seolah menutup mata. Bahkan ada yang bilang mereka menikmati situasinya. Ini merusak citra Cilegon,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan  Ekan warga Sumampir. Ia mengatakan maraknya PSK justru semakin terlihat setelah pembongkaran lokalisasi di Merak.

“Dulu waktu ada lokalisasi, hampir tidak ada PSK berkeliaran. Setelah dibongkar, mereka malah pindah mangkal di Simpang Tiga—tepat di area parkir Masjid Madinatul Hadid,” ujarnya.

Menurutnya, lokasi mangkal para PSK kini ironis karena berada di area yang seharusnya menjadi pusat kegiatan ibadah.

Pantauan Lapangan: PSK dan Pedagang Kopi Beroperasi Bersamaan

Tim media mendapati setiap malam area parkir masjid tersebut dipenuhi para pedagang kopi dan PSK. Transaksi diduga terjadi sambil mereka duduk, sebelum akhirnya pergi bersama pelanggan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Cilegon maupun Satpol PP terkait maraknya aktivitas prostitusi di kawasan itu.

Masyarakat berharap pemerintah bergerak cepat agar citra Kota Cilegon sebagai kota industri dan kota religius tidak semakin tercoreng.


**

Posting Komentar

0 Komentar