![]() |
| Sekretaris Jenderal SMSI, Makali Kumar, Bersama jurnalis Beritaeditorial.com Afridon. |
Lebak,Editor — Museum Multatuli di Kabupaten Lebak menjadi salah satu titik penting yang disinggahi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dalam rangkaian Ekspedisi Budaya dan Sejarah Banten pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Kunjungan ini bukan sekadar napak tilas sejarah, tetapi juga upaya menghidupkan kembali spirit keberanian yang diwariskan Multatuli.
Multatuli—nama pena Eduard Douwes Dekker—dikenal sebagai sosok yang lantang menentang penindasan kolonial di Hindia Belanda. Melalui karya terkenalnya Max Havelaar, ia mengungkap ketidakadilan, korupsi, serta praktik liberalisme kolonial yang menyengsarakan rakyat pribumi. Meski bukan orang Indonesia, keberaniannya berdiri melawan kekuasaan menjadikannya simbol perlawanan moral.
Sekretaris Jenderal SMSI, Makali Kumar, menegaskan bahwa nilai keberanian inilah yang harus dihidupkan kembali oleh para jurnalis masa kini.
“Multatuli mengajarkan kita bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi keberanian untuk berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Ia menulis dengan nurani, meski harus berhadapan dengan kekuasaan,” ujar Makali Kumar saat berada di Museum Multatuli, Jumat (6/2/2026).
Makali menilai, tantangan dunia pers di era digital semakin kompleks. Arus informasi yang cepat, tekanan kepentingan politik dan ekonomi, serta potensi pembungkaman terhadap kritik membuat independensi jurnalis semakin diuji.
“Jurnalis hari ini harus meneladani keberanian Multatuli—tajam, jujur, dan konsisten mengawal bangsa agar tidak terjebak dalam ketidakadilan yang dibungkus kepentingan. Pers harus tetap menjadi suara nurani publik,” tegasnya.
Ia menambahkan, kunjungan SMSI ke Museum Multatuli bukan semata kegiatan budaya, melainkan refleksi atas peran strategis pers dalam menjaga demokrasi, keadilan sosial, dan ruang publik yang sehat.
“Spirit Multatuli harus tetap hidup di setiap pena jurnalis,” pungkas Makali.
**


0 Komentar