Hujan Mengguyur, Haru Mengalir: Pesantren Ramadhan 1447 H Resmi Ditutup

 

penutupan Pesantren Ramadhan 1447 H/2026 M oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad -Mulyadi

Pariaman.Editor -  Hujan lebat yang membasahi halaman Balaikota Pariaman, Jumat sore (13/03/2026), tak mampu memadamkan hangatnya kebersamaan. Di bawah langit kelabu itu, ratusan pelajar berdiri dengan mata berbinar—menunggu momen penting yang akan mereka kenang: penutupan Pesantren Ramadhan 1447 H/2026 M oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad. -Mulyadi

Selama 14 hari, para santri cilik ditempa dalam suasana penuh kedisiplinan dan kasih. Dari tahfiz, cerdas cermat, hingga praktik ibadah, mereka tumbuh bukan hanya dalam ilmu—tetapi juga dalam karakter.

“Ramadhan adalah ruang pendidikan jiwa,” ujar Yota lirih namun penuh keyakinan.

Ketika Talenta Santri Menghangatkan Sore yang Basah

Meski hujan, sorakan kecil para orang tua tetap pecah saat anak-anak tampil membacakan ayat suci dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Penyerahan hadiah Semarak Ramadhan Pramuka menambah senyum di wajah kecil itu—sebuah kebahagiaan sederhana yang terasa begitu tulus.

Buka bersama dan shalat berjamaah menutup rangkaian acara, menghadirkan kehangatan yang tak kalah dari matahari yang tak sempat muncul sore itu.

Kebersamaan Kominfo dan Jurnalis: Sehangat Kolak di Meja Buka

Usai acara utama, kehangatan berlanjut di ruang sederhana Dinas Kominfo Kota Pariaman. Kabid IKP Arifa Yulmarses, staf Nini, dan Dewi menyambut para jurnalis yang setiap hari menjadi mitra kerja pemerintah.

Kolak hangat, air mineral, dan nasi kotak dari restoran Samba Lado dihidangkan. Bukan menu mewah—tapi tawa, cerita, dan rasa kekeluargaan yang membuat buka bersama itu berharga. Para jurnalis dari berbagai media—dari SCTV, Haluan, Padang TV, hingga Beritaeditorial—meramaikan suasana dengan obrolan akrab.

Di penghujung acara, Dewi membagikan THR kecil untuk para wartawan. Mereka mengantre sambil bercanda, dan di momen sederhana itu, kebersamaan terasa begitu manusiawi.

Ramadhan yang Menyatukan

Penutupan Pesantren Ramadhan bukan sekadar tanda usainya kegiatan belajar agama. Ia adalah potret tentang bagaimana pemerintah, sekolah, dan media berjalan beriringan membentuk generasi yang berakhlak, cerdas, dan peduli.

Hujan yang turun deras mungkin membuat baju basah dan jalan licin. Namun, di Balaikota Pariaman sore itu, ada sesuatu yang tetap kering dan hangat: hati mereka yang merasakan kebersamaan.

Ramadhan kali ini mengajarkan satu hal bahwa pendidikan, kolaborasi, dan kasih sayang selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah hujan yang paling deras sekalipun.


**.Afridon.

Posting Komentar

0 Komentar