Dingin Lubuk Lasih, Panas Cerita di Balik Warung Remang Jelang Lebaran

 

Lubuk Lasih, sebuah titik sunyi di batas Kota Padang dan Kabupaten Solok, kembali berdenyut pada Minggu pagi, 15 Maret 2026

Solok.Editor - Lubuk Lasih, sebuah titik sunyi di batas Kota Padang dan Kabupaten Solok, kembali berdenyut pada Minggu pagi, 15 Maret 2026. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, udara lembap menusuk kulit, namun dari sebuah warung kecil beratap seng tua, kehidupan lain justru bergerak jauh lebih cepat.

Warung itu tampak biasa dari luar—hanya lampu kuning redup dan aroma kopi panas yang sesekali mengepul. Namun di bagian belakang, lorong sempit mengarah pada sebuah kamar berkasur tipis, tempat kencan kilat berlangsung tanpa banyak suara. "Masuknya terpisah, pintu ditutup seng," ujar seorang perempuan yang mengenalkan diri sebagai Dewi. (Nama Samaran )

Dewi, warga Lubuk Begalung, sudah lama menekuni pekerjaan sebagai pekerja seks komersial. Di tengah dinginnya Lubuk Lasih, justru ia merasakan ramainya rezeki menjelang Lebaran. “Sekali kencan Rp150 ribu. Dari situ setor kamar Rp50 ribu,” tuturnya tenang, seolah angka-angka itu bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan.

Di belakang warung, sumur tua menjadi tempat para penghuni mandi. Airnya dingin, bahkan menusuk tulang, namun tak menghalangi ritme kehidupan yang sudah bertahun-tahun berjalan di tempat itu.

Menjelang Lebaran, suasana kian meningkat. “Ramai, banyak yang cari THR goyang,” kata Dewi sambil tersenyum tipis. Kopi hangat seharga Rp5 ribu pun menjadi teman setia para pelanggan yang datang silih berganti.

Warung remang di Lubuk Lasih bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah irisan kecil dari kehidupan pinggir kota—sunyi, dingin, namun menyimpan cerita-cerita yang jarang terdengar. Di tengah gelap, ada orang-orang yang bertahan hidup dengan cara yang mereka tahu, meski dunia luar mungkin tak pernah benar-benar memahami.


**tim


Posting Komentar

0 Komentar