![]() |
Anak Nagari dari Rumah Sederhana
Lahir pada 16 September 1956 di Kampung Pauh, Sikucur, V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman, Ali Mukhni tumbuh di tengah keluarga Minangkabau yang sederhana. Ayahnya, Bagindo Zaini, bekerja sebagai petani sekaligus kusir bendi. Ibunya, Siti Sakar, adalah ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anaknya dengan kelembutan dan nilai-nilai adat
Dari rumah mungil itu, ia belajar arti kerja keras. Dari suara langkah bendi ayahnya di pagi hari, ia belajar keteguhan. Dari nasihat ibunya, ia belajar bahwa pendidikan adalah jalan pulang terbaik bagi orang Minang: tak hanya untuk mengubah nasib, tapi juga untuk kembali mengabdi.
Merantau untuk Mengabdi
Seperti banyak anak Minang lainnya, merantau baginya bukan pelarian—melainkan sebuah perjalanan jiwa. Ia melangkah keluar dari kampung, membawa harapan dan keyakinan bahwa hidup adalah medan yang harus ditaklukkan dengan kesabaran dan ketekunan.
Tahun 1988, ia mulai mengabdi sebagai Guru CPNS di STM Negeri Bengkulu. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi PNS. Dunia pendidikan menjadi medan baktinya selama bertahun-tahun. Tahun 1995 ia kembali ke Sumatera Barat sebagai guru di SMA Negeri 10 Padang. Lalu tahun 2000, ia pulang ke tanah kelahiran sebagai pendidik di SMA Negeri 1 V Koto Kampung Dalam.
Di ruang kelas sederhana itulah, ia menanamkan harapan pada generasi muda—bahwa anak nagari punya hak untuk bermimpi, dan tanggung jawab untuk kembali memberi.
Dari Guru ke Pemimpin Daerah
Kepercayaan masyarakat datang perlahan, setahap demi setahap. Sebelum menjadi bupati, ia dipercaya mengemban amanah sebagai wakil bupati. Dari sana, perjalanan pengabdian itu memasuki babak yang lebih besar.
Ali Mukhni kemudian memimpin Padang Pariaman selama dua periode. Pembangunan bergerak, jembatan-jembatan dibangun, akses pendidikan dan kesehatan dibenahi, pelayanan publik diperbaiki. Banyak kebijakan mungkin tidak selalu populer, tapi semangatnya jelas: menghadirkan yang terbaik bagi tanah yang membesarkannya.
Namun yang paling dikenang bukan sekadar programnya—melainkan kedekatannya dengan masyarakat. Ia bukan tipe pemimpin yang menjaga jarak; ia hadir, mendengar, dan turun langsung.
Langkah yang Terhenti Menjelang Tujuan
Setelah dua periode memimpin, ia kembali menyiapkan langkah pengabdian baru: maju sebagai calon anggota DPR RI pada Pemilu 2024. Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap memilih jalan panjang yang melelahkan itu—karena baginya, pengabdian tidak mengenal kata selesai.
Tetapi takdir menulis babak akhir yang berbeda.
Menjelang hari pemilihan, ketika perjuangan politiknya mencapai puncak, Ali Mukhni dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi—bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat yang merasakan dampak tangan hangat kepemimpinannya.
Ia pulang… sebelum sampai.Jejak yang Tak Akan Padam
Kini, yang tersisa adalah jejak-jejak yang ditinggalkannya: sekolah-sekolah yang pernah ia masuki sebagai guru, jalan-jalan yang dibangun, kebijakan yang dirintis, dan ingatan orang-orang yang pernah disentuh oleh kehadirannya.
Kisah Ali Mukhni adalah cermin bagi urang Minangkabau:
bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam pengabdian yang kita tinggalkan.
Ia menunjukkan bahwa merantau bukan sekadar pergi, tetapi tentang kembali dengan ilmu dan karya. Bahwa memimpin bukan sekadar memegang jabatan, tetapi melayani.
Dan ketika ia berpulang sebelum sampai, masyarakatlah yang melanjutkan langkah itu—dengan mengenang, meneladani, dan meneruskan semangatnya
**


0 Komentar