![]() |
| Suasana hening menyelimuti Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pada Minggu dini hari, 15 Maret 2026 |
Padang Editor — Suasana hening menyelimuti Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pada Minggu dini hari, 15 Maret 2026. Para jamaah, termasuk jurnalis senior Afridon, menjalani i‘tikaf dengan rangkaian ibadah yang tertib: pembagian kupon sahur, tadarus Al-Qur’an, tidur bergiliran, hingga shalat tahajud sebelum sahur bersama.
Masjid megah karpet bercorak merah dengan ruang utama tanpa tiang itu menjadi tempat yang nyaman untuk bermalam. Tiga lantainya dimanfaatkan jamaah: lantai dasar berisi kantor dan kamar mandi, lantai dua untuk ibadah utama, dan lantai tiga sebagai ruang istirahat. Fasilitas air bersih, colokan listrik untuk mengisi daya ponsel, serta pengaturan waktu tidur membuat suasana terasa aman dan kondusif.
Dalam kesempatan itu, Afridon menjelaskan secara tegas manfaat i‘tikaf bagi ketenangan batin dan kedisiplinan ibadah.
“I‘tikaf itu menata ulang hati. Di tengah hiruk-pikuk hidup, manusia butuh ruang sunyi untuk kembali pada Tuhannya. Masjid memberi ruang itu,” tegasnya.
Menurutnya, ada beberapa manfaat utama yang langsung dirasakan jamaah yang mengikuti i‘tikaf
1. Membersihkan Hati dari Kegelisahan
Afridon menyebut i‘tikaf mampu meredam pikiran kacau dan menghadirkan ketenangan.
“Pikiran yang kusut perlahan luruh. Ketenangan muncul kembali,” ujarnya.
2. Mendekatkan Diri kepada Allah
I‘tikaf membuat seseorang fokus penuh pada ibadah, jauh dari gangguan dunia.
“Momentum mengosongkan hati dari dunia, mengisinya hanya dengan Allah,” tambahnya.
3. Menguatkan Disiplin Ibadah
Ritme ibadah yang teratur saat i‘tikaf biasanya terbawa setelah Ramadan.
“Orang belajar disiplin: waktu shalat, tilawah, doa. Ini pembiasaan yang sangat penting,” jelasnya.
4. Menekan Pengaruh Negatif Lingkungan
Berjauhan dari kebisingan dan media sosial membuat hati lebih kuat.
“Masjid memberi jarak dari hal-hal yang melemahkan jiwa,” ungkapnya.
5. Menguatkan Rasa Syukur
Kesunyian malam membuat seseorang lebih sadar akan nikmat hidup.
“Dalam sujud malam, kita baru sadar betapa banyak nikmat yang kita lupa syukuri,” katanya.
Selain manfaat spiritual, jamaah juga merasakan perubahan fisik selama i‘tikaf: tubuh lebih ringan, dada lapang, mata mudah berkaca-kaca, dan rasa segar setelah ibadah panjang malam hari.
Afridon menegaskan, i‘tikaf bukan sekadar ibadah sunah, tetapi proses pendewasaan jiwa.
“I‘tikaf itu perjalanan masuk ke dalam diri—menemukan kembali ketenangan yang hilang,” tutupnya.
Kegiatan i‘tikaf di Masjid Raya Sumatera Barat terus berlangsung hingga menjelang akhir Ramadan, dengan jamaah yang semakin bertambah setiap malam.
**



0 Komentar