Afridon: Sang Pena Tajam dari Sumbar yang Tak Pernah Bisa Dibungkam

Najwa Shihab bersama Afridon

Padang,— Di balik setiap berita yang menggugah, selalu ada sosok yang menulis dengan mata tajam dan nurani jernih. Di Sumatera Barat, nama itu adalah Afridon wartawan yang tidak lahir dari bangku jurnalistik, tetapi dari dunia farmasi yang penuh presisi dan ketelitian.

Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si Bersama Jurnalis.Beritaeditorial.com. Afridon.

Ironisnya, justru dari dunia farmasi itulah ketajaman bernalarnya ditempa. Ia terbiasa membaca data, menganalisis persoalan, dan mempertanyakan setiap celah kebenaran. Semua kemampuan itu meletup dalam dunia pers, menjadikannya salah satu wartawan yang disegani di ranah publik Sumbar.

Awal Tak Lazim: Dari Farmasi ke Dunia Pers

Lahir di Padang, 23 Juni 1974, Afridon tumbuh dalam lingkungan sederhana. Pendidikan formalnya jauh dari dunia jurnalistik:

SD 04 Bandar Buat

SMP 21 Bandar Buat

SMF Prayoga Padang

Sarjana Farmasi

Karier profesionalnya bahkan berawal sebagai Medical Representative PT Takeda Indonesia, membawanya bekerja di Jakarta, Medan, Pekanbaru, hingga kembali ke Padang. Di sinilah ia belajar disiplin, riset, komunikasi, serta manajemen data.

Ninik Rahayu.bersama Afridon




Namun ada ruang kosong dalam dirinya. Ia ingin bicara, ingin menulis, dan ingin hadir untuk masyarakat.

Dan pada 1 April 2010, pintu takdir itu terbuka.

Terjun ke Media: Belajar dari Lapangan, Bukan Ruang Kuliah

Tanpa bekal besar dan tanpa “orang dalam”, Afridon memasuki dunia pers dari titik nol. Ia memulai langkahnya melalui berbagai media:

Minangkabauonline

Padang Expo

Harian Koran Padang

PortalBeritaeditorial.

Beritaeditorial.com

Ia bekerja dari bawah, menghadapi panas, hujan, tekanan lapangan, dan ritme kerja yang tak kenal waktu. Tapi justru di situlah karakter jurnalistiknya terbentuk — tajam, disiplin, dan tak mudah digoyahkan.


Kadis Kominfo padan Pariaman Zahirman bersama  Jurnalis Afridon

Liputan yang Menggema: Pasar Bocor Saat Diresmikan Wapres

Nama Afridon mencuat ketika ia menulis berita tentang Pasar Pariaman Baru yang bocor saat hujan, tepat pada hari peresmian oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Beritanya tegas, elegan, dan berdiri penuh di atas fakta. Tidak dibumbui, tidak dilunakkan.

Dampaknya besar:

Pemerintah tergugah,

Publik bersuara,

Beban proyek dipertanyakan.

 bahkan dipanggil Wali Kota Pariaman, didampingi Kepala Dinas Kominfo Hendri S.Sos.

Tetapi di ruang itu, Afridon tetap tenang: yang ia bawa hanya kebenaran.

Sejak itu, reputasinya sebagai “Sang Pena Tajam” makin kokoh.

Integritas Diakui: Lulus UKW Muda dengan Penguji Nasional


Kadis.Kominfo kota Pariaman 2021 Bersama jurnalis Afridon Saat di Panggil.walikota Pariaman saat berita Pasar Rakyat  pariama baru  diresmikan sudah bocor

Afridon masuk PWI Sumatera Barat pada 1 April 2012.

Tahun 2024, ia mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda.

Pengujinya: Khairul Jasmi, tokoh pers nasional


.Afridon lulus dengan hasil membanggakan, mengukuhkan dirinya sebagai wartawan profesional yang beretika dan berintegritas sesuai standar Dewan Pers.

Filosofi Hidup: “Pers Sehat, Ekonomi Kuat, Indonesia Bermartabat”

Bagi Afridon, pers bukan sekadar profesi, tetapi tanggung jawab moral:

Pers Sehat

Informasi harus akurat dan bebas intervensi.

Ekonomi Kuat

Media mendorong transparansi sehingga kepercayaan publik tumbuh.

Indonesia Bermartabat

Bangsa berdiri tegak melalui informasi yang benar.

Prinsip ini menjadi kompas yang ia pegang dalam setiap liputan.

Lapangan Tak Pernah Mudah, Tapi Ia Tak Pernah Mundur

Afridon telah melewati banyak situasi sulit:

Meliput hingga tengah malam

Mengejar narasumber yang enggan bicara

Masuk wilayah berlumpur untuk investigasi

Bekerja di bawah tekanan deadline

Melihat langsung konflik sosial di masyarakat

Namun satu hal yang tak berubah:

Setiap kali berita memberi dampak positif bagi masyarakat kecil, lelah itu hilang.

Keluarga: Sumber Tenang di Tengah Badai

Di balik ketegasannya sebagai wartawan, Afridon adalah ayah dan suami yang hangat. Ia tinggal di Komplek Graha Tata Bakri, Pariaman Timur, bersama istri tercinta Meayu Shinta Rossana, dan dua putrinya:

Ayu Sarah Annisa, lulusan Fisika Unand, hafal 30 juz Al-Qur’an

Aisyah Zahra Amelia, siswi SMK 2 Pariaman, hafal 15 juz Al-Qur’an

Keluarga adalah sumber energinya—tempat ia kembali setelah perjalanan panjang di lapangan.

Afridon: Wartawan yang Menjaga Nurani Publik

Perjalanan Afridon membuktikan bahwa wartawan sejati lahir dari keberanian, bukan gelar. Mereka bekerja demi suara rakyat, bukan demi kepentingan kelompok.

Dari laboratorium farmasi hingga ruang redaksi, dari kota besar hingga kampung kecil di Pariaman, Afridon membawa satu hal yang ia jaga rapat-rapat:

Kejujuran

Sang Pena Tajam dari Sumatera Barat  penjaga fakta, suara rakyat, dan sahabat kecil demokrasi.


**

Posting Komentar

0 Komentar