![]() |
| penggantian bagian bangunan tersebut dilakukan sebagai langkah preventif untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan bangunan sekolah. |
Pariaman Editor — Kepala SMP Negeri 9 Pariaman, Yanti Octavia, S.Kom., memberikan penjelasan terkait sejumlah pekerjaan tambahan yang ditemukan pada proyek revitalisasi sekolah dan menjadi perhatian publik serta kalangan media.
Menurut Yanti, beberapa pekerjaan yang terlihat di lapangan, seperti pemasangan bata pada bagian atas bangunan (singok), bukan merupakan penambahan konstruksi baru, melainkan penggantian bagian bangunan lama yang telah mengalami kerusakan akibat usia dan paparan cuaca.
"Itu bukan ditambah. Bagian singok yang lama sudah lapuk karena sering terkena hujan dan tampias air. Bisa ditanyakan langsung kepada perencana, Pak Roy. Pekerjaan itu memang tidak ada di dalam RAB," ujar Yanti saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan dari pihak perencana, penggantian bagian bangunan tersebut dilakukan sebagai langkah preventif untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan bangunan sekolah.
Menurutnya, mempertahankan bagian bangunan yang sudah lapuk berpotensi menimbulkan risiko di kemudian hari, terutama jika terjadi guncangan atau bencana alam seperti gempa bumi.
"Kalau atapnya sudah kuat sementara bagian bawahnya masih rapuh, tentu ada risiko yang bisa membahayakan siswa. Karena itu dilakukan penggantian agar bangunan lebih kokoh dan aman," katanya.
Selain faktor keamanan, pekerjaan tersebut juga dinilai memberikan nilai tambah dari sisi estetika. Bagian bangunan yang sebelumnya sudah usang kini menggunakan material yang lebih baik dan lebih tahan lama.
Yanti menyebut pekerjaan tambahan tersebut merupakan inisiatif dari pihak perencana yang melihat kondisi riil bangunan di lapangan.
"Ibaratnya bonus untuk sekolah. Tujuannya untuk menjaga ketahanan bangunan. Sebelumnya bagian luar dan dalam sudah banyak mengalami keretakan, sehingga perencana menyarankan dilakukan penguatan tambahan meskipun pekerjaan itu tidak tercantum dalam RAB awal," jelasnya.
Tidak hanya pemasangan bata, pekerjaan penguatan lainnya seperti penambahan tulangan besi juga disebut dilakukan untuk memperkuat struktur bangunan yang sebelumnya tidak memiliki penguatan sebagaimana kondisi saat ini.
"Sebelumnya tidak ada pembesian seperti sekarang. Mungkin karena pertimbangan kekuatan struktur, akhirnya ditambah agar bangunan lebih kuat," ungkapnya.
Meski pekerjaan tersebut tidak tercantum dalam dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB), Yanti menegaskan seluruh pelaksanaannya tetap berada dalam koordinasi pihak perencana dan fasilitator program.
"Perencana tentu terus berkoordinasi dengan fasilitator. Mungkin ada pertimbangan teknis tertentu atau mekanisme yang diperbolehkan untuk melakukan penyesuaian pekerjaan. Yang jelas tujuannya untuk memperkuat bangunan sekolah," tegasnya.
Penjelasan dari pihak sekolah tersebut menjadi bagian penting dalam menjawab sejumlah pertanyaan yang muncul terkait adanya pekerjaan tambahan di lapangan. Namun demikian, untuk memastikan kesesuaian antara pelaksanaan fisik, dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, dan mekanisme administrasi proyek, publik masih menantikan penjelasan lebih lanjut dari pihak perencana, konsultan pengawas, maupun instansi teknis yang berwenang.
Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar seluruh proses revitalisasi sekolah yang didanai pemerintah dapat berjalan sesuai aturan sekaligus menghasilkan bangunan yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi peserta didik.
**Afridon



0 Komentar