![]() |
| Pasi Ren Korem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. Risa Wilsi, S.H., M.H., |
PADANG. Editor— Hampir 30 tahun mengabdi sebagai prajurit TNI, kasiren Korem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. Risa Wilsi, S.H., M.H., telah menorehkan jejak pengabdian di berbagai penjuru Indonesia. Dari Papua, Maluku, Sumatera, Kalimantan hingga Kepulauan Riau, perjalanan panjang tersebut bukan hanya membentuk karier militernya, tetapi juga memperkaya pemahamannya tentang arti persatuan dalam keberagaman.
Bagi Kolonel Risa Wilsi, Indonesia bukan sekadar wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh beragam suku, agama, bahasa, dan budaya yang harus dijaga bersama.
Dalam diskusi bersama wartawan di Makorem 032/Wirabraja, Rabu (3/6/2026), ia mengisahkan perjalanan panjang pengabdiannya sejak dilantik sebagai Letnan Dua Infanteri pada 13 Mei 1996 setelah menempuh pendidikan SEPA PK di Magelang.
Penugasan pertamanya membawanya ke Papua sebelum kemudian bergabung dengan Yonif Linud 733/Masariku di Ambon, Maluku. Di wilayah itulah ia menghabiskan hampir satu dekade pengabdian sekaligus menyaksikan langsung salah satu konflik sosial terbesar yang pernah mengguncang Indonesia.
"Ambon mengajarkan saya betapa mahalnya harga sebuah persatuan. Sebelum konflik, masyarakat hidup berdampingan dengan damai. Namun ketika provokasi berkembang, situasi berubah drastis dan menimbulkan penderitaan bagi banyak orang," kenangnya.
Pengalaman berada di tengah konflik membuatnya memahami bahwa komunikasi yang baik dan penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat merupakan benteng penting untuk mencegah perpecahan.
"Saya melihat sendiri bagaimana konflik dapat menghancurkan kehidupan masyarakat. Karena itu, komunikasi, saling memahami, dan menjaga persaudaraan menjadi hal yang sangat penting," ujarnya.
Kariernya terus berkembang melalui berbagai penugasan strategis. Setelah menyelesaikan pendidikan Selapa, ia bertugas di Kodam I/Bukit Barisan sebelum dipercaya mengemban tugas di Korem 032/Wirabraja, Sumatera Barat.
Di Ranah Minang, ia turut terlibat dalam berbagai penanganan bencana besar, termasuk Gempa Padang 2009 dan Tsunami Mentawai 2010. Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa semangat gotong royong merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai ujian.
Berbagai jabatan kemudian diembannya, mulai dari Kasdim 0210/Tapanuli Utara, Pasipers Korem, hingga sejumlah posisi strategis di lingkungan Kodam I/Bukit Barisan. Setelah menyelesaikan pendidikan Seskoad pada 2020, ia dipercaya menjadi Kolonel dan bertugas di Kalimantan Timur, Lampung, hingga Kepulauan Riau sebelum akhirnya kembali ke Sumatera Barat pada 2025.
Dari seluruh daerah penugasan, Tapanuli Utara menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya dalam melihat praktik toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Sebagai seorang Muslim yang bertugas di wilayah mayoritas Kristen, ia merasakan hubungan yang harmonis antara aparat dan masyarakat.
"Saya Muslim, pimpinan saya Kristen, anggota saya banyak yang Kristen. Namun kami hidup dan bekerja dalam suasana saling menghormati. Di sana saya belajar bahwa persaudaraan jauh lebih besar daripada perbedaan," katanya.
Selama bertugas di sedikitnya tujuh provinsi, Kolonel Risa Wilsi menyaksikan langsung wajah Indonesia yang sesungguhnya. Menurutnya, keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan yang menjadi fondasi bangsa.
"Semakin banyak kita mengenal Indonesia, semakin kita memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Justru keberagaman adalah kekuatan yang membuat bangsa ini tetap kokoh," tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah belah persatuan. Menurutnya, budaya musyawarah dan mufakat harus kembali menjadi pegangan dalam menyelesaikan setiap persoalan.
"Jangan selalu mencari perbedaan. Jika ada masalah, mari duduk bersama dan bermusyawarah. Indonesia besar bukan karena semua orang sama, tetapi karena kita mampu hidup berdampingan dalam perbedaan," ujarnya
Perjalanan panjang Kolonel Inf. Risa Wilsi dari wilayah konflik hingga daerah yang menjadi simbol toleransi menjadi bukti bahwa pengabdian kepada bangsa tidak hanya dilakukan melalui tugas pertahanan negara, tetapi juga melalui upaya menjaga persatuan, merawat kebhinekaan, dan memperkuat semangat kebangsaan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
**Afridon


0 Komentar