![]() |
| Kondisi ruas jalan nasional Kambang–Indrapura–Tapan–Batas Jambi hingga Tapan–Batas Bengkulu kembali menjadi sorotan masyarakat. |
PESISIR SELATAN .Editor — Kondisi ruas jalan nasional Kambang–Indrapura–Tapan–Batas Jambi hingga Tapan–Batas Bengkulu kembali menjadi sorotan masyarakat. Jalan strategis penghubung antarprovinsi itu dinilai mengalami banyak kerusakan, mulai dari lubang menganga, tambalan aspal cepat rusak, hingga bekas pengupasan jalan yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama.
Keluhan pengguna jalan terus bermunculan dalam beberapa bulan terakhir. Warga dan pengendara mengaku khawatir karena sejumlah titik kerusakan dinilai membahayakan keselamatan, terutama saat malam hari dan ketika hujan turun.
![]() |
| Lobang Besar Masyarakat Berharap di Perbaiki Segara. |
“Kalau hujan, lubang tertutup genangan air sehingga pengendara tidak tahu seberapa parah kerusakannya. Ini sangat berbahaya,” ujar seorang warga Balai Selasa kepada wartawan.
Sorotan publik kini mengarah kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 Satker PJN Wilayah 2 Sumatera Barat, Gina Lamria Indriati Tampubolon, ST., yang memiliki tanggung jawab dalam pengawasan pekerjaan preservasi jalan nasional di wilayah tersebut.
![]() |
| Genanagan Air Saluran Tersumbat merupa Skala Prioritas Terabaikan |
Selain itu, kontraktor pelaksana, PT Anatama Konstruksi Utama, juga mendapat kritik tajam dari masyarakat. Warga menilai kualitas pekerjaan preservasi belum maksimal karena tambal sulam aspal dinilai tidak bertahan lama dan kerusakan kembali muncul hanya dalam waktu singkat.
“Baru diperbaiki beberapa minggu sudah rusak lagi. Bekas kupasan aspal juga lama dibiarkan terbuka. Wajar masyarakat kecewa,” ungkap seorang sopir angkutan lintas Sumatera.
Ruas jalan nasional di kawasan selatan Sumatera Barat memiliki peran vital sebagai jalur distribusi logistik dan penghubung utama menuju Provinsi Jambi dan Bengkulu. Kerusakan jalan dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Di tengah kritik terkait kualitas preservasi jalan, publik juga dihebohkan dengan informasi mengenai adanya rencana pengunduran diri Gina Lamria Indriati Tampubolon dari jabatan PPK 2.4 Satker PJN Wilayah 2 Sumbar.
Saat dikonfirmasi wartawan, Gina membantah telah mengajukan surat resmi pengunduran diri. Namun, ia mengakui pernah menyampaikan secara lisan keinginan untuk mundur dari jabatan tersebut.
“Prinsipnya kami siap ditempatkan di mana saja. Saya belum membuat surat pengunduran diri, tapi secara lisan memang pernah ada rencana mengundurkan diri. Namun itu bukan karena pekerjaan, melainkan faktor keluarga yang berada di Medan,” ujarnya.
Pernyataan itu memicu beragam reaksi di tengah masyarakat. Sejumlah tokoh masyarakat menilai jabatan strategis seperti PPK membutuhkan fokus dan pengawasan maksimal, mengingat pekerjaan infrastruktur jalan menyangkut keselamatan ribuan pengguna jalan setiap hari.
“Kalau pengawasan lapangan tidak maksimal, tentu masyarakat yang dirugikan. Jalan nasional tidak boleh diawasi setengah hati,” kata seorang tokoh masyarakat di kawasan Indrapura.
Kini masyarakat tidak hanya menyoroti kerusakan jalan dan kualitas pekerjaan tambal sulam, tetapi juga mempertanyakan efektivitas pengawasan internal dalam memastikan proyek preservasi berjalan sesuai standar teknis Kementerian PUPR.
Publik berharap BPJN Sumatera Barat segera mengambil langkah tegas, baik terhadap kontraktor pelaksana maupun sistem pengawasan proyek di lapangan. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas jalan, melainkan juga keselamatan masyarakat serta kepercayaan publik terhadap pengelolaan infrastruktur negara.
**Afridon




0 Komentar