![]() |
| Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berhasil menuntaskan rehabilitasi 446 hektare lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025. |
PADANG PARIAMAN Editor – Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berhasil menuntaskan rehabilitasi 446 hektare lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025. Pemulihan tersebut dilakukan melalui Program Optimalisasi Lahan (Oplah) yang didukung penuh oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Keberhasilan ini menjadi kabar menggembirakan bagi ribuan petani yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi ancaman penurunan produksi akibat kerusakan lahan pertanian. Bahkan, target penyelesaian yang diberikan Menteri Pertanian selama satu bulan mampu diselesaikan lebih cepat, yakni hanya dalam waktu 23 hari.
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, mengatakan percepatan rehabilitasi dilakukan karena sektor pertanian merupakan penopang utama perekonomian masyarakat. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memulihkan kondisi pertanian pascabencana.
“Alhamdulillah, target yang diberikan Bapak Menteri selama satu bulan berhasil kita tuntaskan kurang dari satu bulan. Setelah rehabilitasi selesai, langsung dilakukan penanaman padi secara serentak,” ujar John Kenedy Azis.
Penanaman perdana dilakukan di Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, sebagai simbol dimulainya kembali aktivitas pertanian di lahan yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor.
Data Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman mencatat total lahan sawah yang terdampak bencana mencapai 1.263,4 hektare. Dari jumlah tersebut, 446 hektare mengalami kerusakan ringan dan telah selesai ditangani sepenuhnya melalui program Oplah.
Sementara itu, lahan sawah dengan kategori rusak sedang mencapai 238,25 hektare. Hingga saat ini, sebanyak 198 hektare telah mendapatkan penanganan melalui bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan sisanya masih menunggu penyelesaian administrasi dan pemenuhan persyaratan teknis.
Tantangan terbesar masih berada pada lahan sawah rusak berat yang mencapai 450,7 hektare. Selain itu, sekitar 100,5 hektare lahan pertanian bahkan hilang akibat abrasi dan tergerus derasnya arus sungai saat bencana melanda.
Bupati menegaskan bahwa hingga kini belum ada alokasi bantuan khusus dari pemerintah pusat untuk rehabilitasi lahan rusak berat maupun penggantian lahan yang hilang. Karena itu, Pemkab Padang Pariaman terus mendorong perhatian pemerintah pusat agar petani dapat kembali produktif.
Tidak hanya sawah, sektor tanaman pangan lainnya juga terdampak cukup besar. Lahan jagung mengalami kerusakan ringan seluas 382,6 hektare, rusak sedang 71 hektare, rusak berat 112 hektare, serta 4,3 hektare lahan hilang akibat bencana.
Melihat besarnya dampak yang terjadi, John Kenedy Azis meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk memberikan dukungan lanjutan berupa rehabilitasi lahan sawah rusak berat seluas 450,7 hektare, penggantian lahan sawah yang hilang seluas 100,5 hektare, serta pemulihan lahan jagung terdampak seluas 570,35 hektare.
“Pertanian adalah sumber kehidupan masyarakat Padang Pariaman. Pemulihan lahan tidak hanya soal infrastruktur pertanian, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga petani,” tegasnya.
Sebelumnya, percepatan rehabilitasi dilakukan dengan menambah jumlah alat berat yang bekerja di lapangan. Dari semula hanya satu unit, meningkat menjadi lima unit alat berat yang bertugas membersihkan material banjir yang menutupi area persawahan.
Langkah cepat tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Dengan kembali produktifnya ratusan hektare sawah, harapan baru bagi petani Padang Pariaman untuk meningkatkan hasil panen dan memperkuat perekonomian daerah mulai terlihat.
**Afridon


0 Komentar