![]() |
| Sebuah truk pengangkut semen terguling dan terjun ke sungai rabu 8 April 2026, diduga akibat terperosok ke lubang di pinggir badan jalan yang lama dibiarkan tanpa penanganan. |
Pesisir Selatan Editor – Kondisi memprihatinkan kembali ditemukan di ruas jalan nasional Mandarahan, Palangai Kaciak, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan. Sebuah truk pengangkut semen terguling dan terjun ke sungai rabu 8 April 2026, diduga akibat terperosok ke lubang di pinggir badan jalan yang lama dibiarkan tanpa penanganan.
Pantauan wartawan di lapangan menunjukkan jelas, titik kerusakan berada tepat di tepi jalan yang tidak memiliki pembatas pengaman. Kedalaman lubang cukup besar untuk membuat roda kendaraan berat kehilangan kendali. Lebih parah lagi, tak ada satu pun rambu peringatan atau penanda bahaya yang dipasang di lokasi.
Bekas kecelakaan masih tampak. Pagar rumah warga rusak, sementara jarak antara badan jalan dan aliran sungai yang hanya beberapa meter memperbesar potensi kecelakaan fatal.
Warga: “Lubangnya sudah lama, sering makan korban nyaris
Khairuman, pemilik rumah yang terdampak, menegaskan bahwa kejadian ini bukan insiden pertama.
“Lubang itu sudah lama. Banyak kendaraan oleng. Baru kali ini yang sampai terbalik dan jatuh ke sungai,” ujarnya, Rabu (8/4/2026)
Warga lain, Yuliana (35), menyebut mereka kerap memasang tanda seadanya, tetapi tidak bertahan lama.
“Kadang kami kasih kayu atau batu. Tapi hilang, tersapu. Tidak ada rambu resmi dari pemerintah,” ungkapnya.
Eka .Murn (61 ) pengendara yang rutin melintas, menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya pengawasan jalan nasional.
“Ini jalan negara, tapi seperti tidak terurus. Kalau malam, lubang ini tidak kelihatan,” tegasnya.
Arjumaid (56 ), sopir truk barang, mengaku titik itu sangat berbahaya bagi kendaraan bermuatan besar.
“Kalau roda turun sedikit saja ke pinggir, langsung hilang kendali. Bahayanya besar,” katanya.
Pengawasan Dipertanyakan, PPK Mengaku Tak Dapat Laporan
Ketika dikonfirmasi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4, Gina, mengaku belum menerima laporan terkait insiden truk terguling tersebut.
“Tidak ada laporan masuk ke saya. Saya belum mengetahui kejadian ini. Nanti tim lapangan akan saya minta cek,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemantauan jalan dilakukan berkala—bulanan hingga dua bulanan. Namun ia tidak menampik bahwa ada kemungkinan kerusakan luput dari pantauan.
“Kalau tidak ada laporan, bisa saja tidak terdeteksi,” tambahnya.
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan publik: seberapa efektif sistem monitoring jalan nasional jika kerusakan yang sudah lama dikeluhkan warga tidak terpantau?
Tidak Ada Penanganan Cepat di Lokasi
Hingga berita ini diturunkan, aparat terkait belum terlihat memasang rambu darurat atau melakukan penanganan sementara. Padahal, standar keselamatan mengharuskan setiap titik berbahaya diberi penanda sebelum perbaikan permanen dilakukan.
Jalur Vital, Respons Dinilai Lamban
Ruas jalan tersebut adalah jalur utama distribusi logistik di Pesisir Selatan. Keterlambatan penanganan sekecil apa pun dapat berujung pada kerugian besar, bahkan korban jiwa.
Peristiwa ini menjadi momentum untuk mengevaluasi:
Kecepatan respons pemerintah pusat maupun daerah
Efektivitas pengawasan jalan nasional
Kepatuhan terhadap standar keselamatan jalan
Kini warga berharap insiden ini tidak hanya sekadar menjadi catatan, tetapi ditindaklanjuti segera sebelum jatuh korban berikutnya
** Afridon.


0 Komentar