PADANG.Editor — Di tengah derasnya modernisasi yang mulai menyapu pesisir Sumatra Barat di awal milenium, muncul sebuah pertanyaan besar: mampukah nilai-nilai tradisional Minangkabau bertahan menghadapi perubahan zaman? Pertanyaan itu justru melahirkan sebuah terobosan besar dari H. Fauzi Bahar, M.Si., Wali Kota Padang periode 2004–2014, yang memilih membangun “monumen hidup” dalam jiwa generasi muda. Jumat 28 Februari 2026
Tahun 2004 menjadi titik penting perjalanan pendidikan karakter di Kota Padang. Saat itu, Fauzi Bahar meresmikan Program Pesantren Ramadhan, kebijakan yang berani dan dianggap mendisrupsi sistem pendidikan formal. Ia memahami bahwa ruang kelas mungkin efektif mentransfer ilmu, tetapi masjid adalah tempat terbaik membentuk akhlak.
Selama Ramadan, seluruh siswa dipindahkan proses belajarnya ke masjid dan mushalla. Tujuannya jelas: menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba, pergaulan bebas, dan lunturnya kompas moral. Di bawah kubah masjid, para pelajar belajar akhlakul karimah, bukan sekadar teori agama.
Kebijakan itu berdiri di atas falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, memastikan identitas budaya dan religius anak muda Padang tidak tercerabut dari akar adatnya. Pesantren Ramadhan juga menjadi ruang persemaian nilai sosial—zakat, infak, dan gotong royong—yang tak membedakan latar belakang sosial di antara peserta.
Menariknya, program ini sejak awal tidak eksklusif hanya untuk siswa Muslim. Pelajar non-Muslim tetap difasilitasi kegiatan pembinaan iman sesuai agama masing-masing. Fauzi Bahar membangun peradaban kota yang religius, modern, dan tetap inklusif.
Dua dekade berlalu, obor itu tidak padam. Di bawah kepemimpinan para penerusnya, termasuk penguatan kegiatan pendidikan oleh Fadly Amran, Pesantren Ramadhan terus bertransformasi. Program kini terintegrasi dengan teknologi, kompetisi sains, hingga bantuan sosial seperti penyediaan seragam gratis bagi pelajar.
Pesantren Ramadhan bukan lagi hanya agenda musiman, tetapi telah menjadi institusi pendidikan nonformal terbesar dan paling dinanti setiap tahun di Kota Padang. Ribuan pelajar telah menjadi bagian dari “generasi hebat” yang ditempa di masjid-masjid sejak 2004.
Warisan visioner ini mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mencerdaskan otak, melainkan meneguhkan hati. Seperti pesan yang kerap digaungkan Fauzi Bahar: “Kita tidak hanya mengajar, kita membangun benteng masa depan bangsa.” Dan hingga hari ini, benteng itu masih berdiri kokoh di sudut-sudut masjid Kota Padang.
**


0 Komentar