Padang.Editor — Sebuah kesalahan kecil bisa berubah menjadi persoalan besar. Namun kadang, dari sebuah kekeliruan, justru tampak keindahan hati manusia yang jarang disorot. Begitulah yang dialami oleh Nurhayati A, warga Pagambiran Permai, Kota Padang, ketika uang hasil kerja kerasnya tersasar ke rekening orang lain karena satu digit angka yang keliru.
Peristiwa itu terjadi pada Senin malam, 5 Januari 2026, sekitar pukul 18.40 WIB. Dalam kondisi terburu-buru dan tanpa kacamata, Nurhayati yang hendak mengirim dana ke pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, tidak sadar mengetik angka rekening yang salah. Malam itu, ia baru saja menyalurkan donasi untuk seorang dhuafa, sehingga nomor rekening berikutnya ia masukkan tanpa mengecek ulang.
“Saya pikir sudah benar karena sering transfer ke sana. Rupanya satu angka terakhir berbeda,” katanya dengan mata memerah, mengenang momen itu bersama adiknya, Rajo Alam.
Tak lama, pimpinannya menelepon, menanyakan dana yang belum juga masuk. Di situlah Nurhayati tersentak.
“Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya merasa sangat bersalah,” ucapnya lirih.
Prosedur Panjang: Birokrasi yang Menguras Waktu dan Perasaan
Keesokan paginya, Selasa 6 Januari 2026 , ia bersama suami dan anaknya mendatangi Unit BRI Bandar Buat. Mereka disambut ramah, tetapi jawaban yang diterima membuat harapannya meredup.
“Bank tidak bisa memblokir karena ini murni kelalaian saya. Itu kata petugas Romi,” ujarnya.
Hari berikutnya pun dilalui dengan kecemasan. Pada Rabu 7 Januari 2026, ia kembali mengadu. Romi, supervisor, menjelaskan bahwa pemblokiran baru bisa dilakukan jika ada surat dari kantor pusat BRI. Ia disarankan menghubungi call center.
Bahkan Kepala Unit BRI, saat itu Rido Nurjalalen, memberikan arahan serupa. Nurhayati diminta melapor melalui bank asal pengirim, BNI.
Langkah demi langkah ia tempuh. Ia mendatangi BNI Unit Bandar Buat, dan dibantu petugas melakukan pelaporan resmi. Pada Kamis 8.Januari 2026, BNI mengonfirmasi bahwa surat permohonan blokir sudah dikirim ke BRI.
Namun hingga Jumat 9Januari 2026 jawaban yang ia dapat masih sama: menunggu surat dari pusat.
Meski lelah dan resah, Nurhayati tidak menyerah.
Ia kemudian mendatangi BNI Jalan A. Yani. Di sana, Supervisor Vani Christalia menunjukkan respons cepat. Melalui koordinasi dengan kantor pusat, diketahui bahwa surat BNI sebenarnya sudah diterima BRI pada 9 Januari. 2026
Merasa ada kejanggalan, ia akhirnya datang ke BRI Bagindo Aziz Chan. Di sanalah ia bertemu Supervisor Wilayah, Feby Riani, yang menyesalkan lambannya penanganan di tingkat unit.
Beliau meminta agar kasus ini segera ditindaklanjuti melalui KC BRI Khatib Sulaiman.
Akhir yang Indah: Ketika Kejujuran Menyelesaikan Segalanya
Pada Selasa 13 Januari 2026 Nurhayati datang ke KC BRI Khatib Sulaiman. Di sana ia dilayani oleh Indra Sutanto, yang langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan kantor pusat BRI.
Hasilnya tidak lama ditunggu. Unit BRI Bandar Buat akhirnya menghubungi nasabah penerima dana keliru—seorang pria bernama Hamdizal.
Dan di sinilah keindahan cerita itu muncul.
Tanpa menunda, Hamdizal datang langsung ke kantor BRI. Ia mengakui menerima dana tersebut dan mengembalikannya secara utuh.
“Alhamdulillah, uang saya kembali. Terima kasih kepada pihak bank yang sudah membantu, dan terutama kepada Bapak Hamdizal yang beritikad baik,” ujar Nurhayati dengan mata berkaca-kaca.
Cahaya Kebaikan di Tengah Rumitnya Prosedur
Cerita ini bukan hanya tentang keliru mengetik angka, atau tentang berbelitnya SOP perbankan. Ini adalah kisah tentang keteguhan seorang perempuan menjemput haknya, tentang solidaritas petugas bank yang tetap membantu, dan yang paling penting: tentang kemuliaan hati seseorang yang memilih jujur meski bisa saja diam dan mengabaikan.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan dan godaan untuk mementingkan diri sendiri, tindakan Hamdizal adalah oase. Bukti bahwa nilai kejujuran masih hidup. Bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Dan bagi Nurhayati, pengalaman itu akan selalu menjadi pengingat bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada orang-orang baik yang siap membantu.
Akhirnya, bukan hanya uang yang kembali—tetapi juga keyakinan bahwa kebaikan masih memiliki tempat di hati manusia.
**


0 Komentar