![]() |
| Ketua Dewan Pengawas DPN ASANTARA, Drs. H. Muhammad Mufti Syarfi, MM, Bersama Jurnalis Beritaeditorial.com Afridon |
PADANG.Editor — Wartawan dituntut bukan hanya mampu menemukan dan menyajikan fakta, tetapi juga berani melakukan konfirmasi, terbuka terhadap berbagai karakter narasumber, serta tidak takut menyampaikan berita secara korektif.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengawas DPN ASANTARA, Drs. H. Muhammad Mufti Syarfi, MM, dalam dialog bersama jajaran pengurus DPN ASANTARA di Hotel Rangkayo Basa, Padang, Sabtu (15/8/2026).
Dalam dialog yang berlangsung terbuka dan penuh keakraban itu, Mufti Syarfi membagikan pengalaman panjangnya di dunia pers, termasuk bagaimana wartawan seharusnya menghadapi narasumber yang sulit ditemui atau belum memberikan tanggapan.Menjawab pertanyaan Wakil Ketua Umum DPN ASANTARA, Darmen Rajo Alam, Mufti Syarfi menegaskan bahwa belum diperolehnya jawaban dari narasumber tidak serta-merta membuat sebuah informasi kehilangan nilai jurnalistik.
“Kalau narasumber belum bisa ditemui, dengan berbagai alasan, itu sudah bisa diberitakan. Gambarkan saja suasananya,” ujar Mufti Syarfi.
Menurutnya, konfirmasi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan pemberitaan. Namun, wartawan juga harus mampu menggambarkan kondisi di lapangan secara proporsional tanpa membangun stigma terhadap narasumber.
Ia mengingatkan wartawan agar tidak memberikan cap negatif kepada seseorang hanya karena sulit ditemui saat hendak dikonfirmasi.
“Jangan takuti sebelum kita masuki. Kalau kita membuat stempel pada orang, itu akan menghambat pekerjaan kita,” tegasnya.
Wartawan Harus Terbuka
Mufti Syarfi menilai sikap terbuka merupakan modal penting bagi seorang wartawan. Fungsi kontrol sosial harus dijalankan dengan keberanian, tetapi tetap berpegang pada etika, ketelitian dan akurasi.
“Sikap wartawan itu adalah bersikap terbuka. Sikap korektif yang kita tanam adalah sikap korektif yang terbuka,” katanya.
Ia menegaskan, keberanian wartawan bukan berarti bebas menyerang atau menghakimi seseorang. Sebaliknya, keberanian harus digunakan untuk mencari fakta, melakukan verifikasi dan memberikan ruang yang adil kepada pihak yang diberitakan.
Pengalaman Menghadapi Gubernur
Dalam dialog tersebut, Mufti Syarfi juga menceritakan pengalamannya ketika Hasan Basri Durin menjabat Gubernur Sumatera Barat.
Saat itu, ia pernah menulis berita yang bersifat korektif terhadap kebijakan atau langkah pemerintah daerah. Berita tersebut kemudian sampai kepada gubernur.
Alih-alih menghindar, Mufti Syarfi justru datang menemui gubernur dan menjelaskan alasan di balik pemberitaan tersebut.
Menurutnya, berita korektif bukan ditujukan untuk menyerang pribadi pejabat, tetapi merupakan bagian dari fungsi pers dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.
“Berita korektif itu penting buat gubernur. Masyarakat menjadi tahu, dan gubernur juga bisa lebih berhati-hati,” tuturnya.
Pengalaman itu menjadi pelajaran penting yang disampaikan kepada jajaran DPN ASANTARA. Wartawan, katanya, tidak boleh kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat maupun pihak yang memiliki posisi kuat.
Namun keberanian tersebut harus tetap dibarengi profesionalitas, akurasi, etika dan kesediaan memberikan hak jawab atau ruang klarifikasi.
Dari Pengalaman Pers ke Pengawasan ASANTARA
Mufti Syarfi memiliki perjalanan panjang dalam dunia kewartawanan dan organisasi pers. Pengalamannya sebagai wartawan senior dan mantan Ketua PWI menjadi modal dalam menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pengawas DPN ASANTARA.
Baginya, jurnalistik bukan sekadar kemampuan menulis berita. Profesi tersebut membutuhkan keberanian moral, kepekaan sosial, ketelitian, kemampuan membaca situasi serta komitmen terhadap verifikasi.
Di tengah perkembangan media digital dan derasnya arus informasi, ia mengingatkan agar kecepatan tidak mengalahkan ketepatan.
Wartawan harus mampu membedakan fakta, informasi dan opini. Kritik boleh tajam, tetapi harus tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Dihadiri Jajaran DPN ASANTARA
Dialog tersebut dihadiri Ketua Umum DPN ASANTARA Drs. H. Marlis, MM, C.Med, Bendahara Umum Mislinda Hayati, Wakil Ketua Umum Faisal Budiman, SH, serta Darmen Rajo Alam.
Hadir pula jajaran pengurus DPN ASANTARA, di antaranya Mukhtisar, SH, Afridon Rajo Bungsu, Zul Helmi Boy, SH, Alizar, Fitri Sari, Maichel Firmansyah, dan Viky, serta sejumlah pengurus lainnya.
Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, tetapi substansi yang dibahas cukup serius, yakni membangun karakter wartawan yang independen, terbuka, berani melakukan koreksi dan tetap berpegang pada etika jurnalistik.
Pesan Mufti Syarfi pun tegas: wartawan jangan takut sebelum menghadapi persoalan.
Keberanian dalam jurnalistik bukan berarti mengabaikan etika. Keberanian adalah kesanggupan mencari fakta, melakukan konfirmasi, menulis secara korektif, memberikan ruang kepada pihak terkait, dan mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada publik.
**Afridon


0 Komentar