Gulai Anak Lauk Satukan Tiga Sahabat di Lapau Uni Ajin

 

Kadai Nasi Ajin tiga sahabat Budi Roskiman dan Afridon Senen 16 Februri 2026 

Padang Pariaman.Editor- Di siang yang teduh di Padang Pariaman, aroma gulai dari sebuah lapau kecil di Jalan Sunur memecah kesunyian awal pekan. Kadai Nasi Uni Ajin, lapau beratap rumbia di Ulakan Tapakis, kembali menjadi saksi pertemuan tiga sahabat lama yang dipertautkan oleh rasa dan kenangan.Senin, 16 Februari 2026.

Gulai Anak Lauk: Rasa yang Mengikat Cerita

Menu yang tersaji sederhana: gulai anak lauk pinang-pinang, gulai masin, lado kutu, sambal campur, dan sayur ubi. Namun bagi pelanggan tetap, rasa masakan Uni Ajin lebih dari sekadar makanan—ia adalah nostalgia yang pulang lewat lidah.

Roskiman, kontraktor senior di Padang Pariaman, menyebut lapau itu sebagai “rumah kedua.”


Kadai Nasi Ajin  

“Enak sekali. Banyak makan enak di Piaman, tapi gulai anak lauk memang lain,” ujarnya tersenyum puas.

Dengan harga Rp15.000, seporsi gulai kampung itu cukup membuat perut kenyang dan hati senang.

Obrolan Sahabat Lama: Dari Jabatan Hingga Pensiun

Tidak jauh berbeda nikmatnya dari gulai yang terhidang, obrolan di meja panjang lapau itu mengalir hangat.

Budi Prawira, yang kini menjabat Kabag Ops Polres Pariaman dengan 37 tahun pengalaman dinas, bercerita santai tentang masa tugasnya.

“Enam bulan lagi pensiun,” ujarnya sembari menikmati rokok Class Mild dan kopi hitam.

Tidak ada nada penyesalan, hanya ketenangan seorang abdi negara yang siap memasuki babak baru hidupnya.

Afridon: Rindu yang Terbayar

Di sisi lain meja, Afridon—wartawan senior yang lebih sering bergulat dengan kesibukan liputan—menjadi yang paling antusias.

“Sudah lama kita tak duduk begini. Alhamdulillah masih diberi kesehatan,” katanya sambil tertawa.

Dalam tawa itu, tersimpan rindu yang lama tertahan. Rindu pada cerita masa muda, perjuangan hidup, dan makan siang kampung yang selalu berhasil membawa pulang kenangan.

Lapau Uni Ajin: Tempat Pulang, Bukan Sekadar Tempat Makan

Di bawah atap rumbia yang sederhana, persahabatan tiga sahabat itu seperti diperbaiki kembali oleh gurihnya gulai dan hangatnya kopi. Lapau Uni Ajin bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi ruang kecil tempat orang pulang—kepada rasa, kepada cerita, kepada tawa yang tak lekang oleh waktu.

Menjelang pukul dua siang, mereka meninggalkan meja dengan langkah ringan. Perut kenyang, hati lapang, dan kenangan lama yang kembali hidup.

Di Padang Pariaman, makanan memang bukan sekadar soal rasa.

Ia adalah jembatan menuju cerita-cerita yang tak pernah usang


**


Posting Komentar

0 Komentar