Pariaman, Editor— Pagi baru saja merekah ketika suara lirih seorang ayah memecah keheningan di Kota Pariaman. Rabu 4 Februari 2026
Pukul 06.01 WIB, di tengah udara lembap sisa fajar, seorang pria menengadahkan tangan, memohon keselamatan kepada Sang Pencipta. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyebut satu per satu nama orang yang paling ia cintai.
“Ya Allah… Aku ayah dari Sarah, 23 tahun, Zahra, 18 tahun… dan suami dari istriku yang kutinggalkan, Bunda Shinta. Lindungi mereka dalam keadaan taat, ya Allah…” bisiknya, pecah bersama air mata yang tak tertahan.
Doa itu dipanjatkan sesaat sebelum ia bersiap meninggalkan rumah untuk perjalanan panjang menuju Banten, menghadiri rangkaian acara Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang puncaknya digelar pada 9 Februari 2026, dan direncanakan dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto.
Tema nasional tahun ini, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” terasa begitu dekat di dadanya—seakan menjadi penyemangat sekaligus panggilan tanggung jawab.
Pagi yang Mengajarkan Keteguhan
Di kediamannya, suasana syahdu itu bercampur haru ketika ia memanggil istri dan kedua anaknya. Pagi itu bukan sekadar detik keberangkatan—tetapi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang paling tulus.
Kepada sang istri, Bunda Shinta, ia berpesan lembut namun penuh ketegasan seorang kepala keluarga:
“Jaga kesehatan, banyak ibadah, dan jangan keluar rumah lewat pukul dua belas malam. Kurangi main HP, salat tepat waktu, makan cukup, dan jangan lupa olahraga.”
Untuk Sarah, sang kakak, ia menitipkan harapan agar tetap menjadi penopang Bunda di rumah.
Namun kepada Zahra, putri bungsunya, pesannya lebih panjang—seolah ia ingin memastikan si kecil tumbuh dalam disiplin dan kelembutan:
“Bicara yang sopan pada Bunda dan Nenek. Jangan tinggalkan salat. Bantu pekerjaan rumah. Tidur yang cukup. Jangan membantah.”
Zahra hanya mengangguk—matanya ikut berkaca-kaca. Bagi seorang anak perempuan, nasihat seorang ayah sebelum perjalanan jauh selalu terasa seperti pelukan yang paling dalam.
Masjid Badano: Saksi Doa dan Harapan
Masjid Badano, yang berdiri kokoh tak jauh dari kediaman mereka, menjadi tempat pelabuhan doa. Pada pukul 05.46 WIB, jamaah yang hadir ikut mengirimkan harapan agar perjalanan sang Ayah menuju Banten diberi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan.
Di halaman masjid, suara azan Subuh yang baru saja usai seakan menyiramkan ketenangan di hati keluarga itu. Dari balik langit yang memucat, pagi terasa seperti ikut merestui langkahnya.
Langkah Penuh Tanggung Jawab Menuju HPN 2026
Pukul 08.00 WIB, ia bersiap meninggalkan Kota Pariaman. Tas kecil, secarik jadwal acara, dan doa panjang dari keluarga menjadi bekalnya.
Banten bukan sekadar tujuan perjalanan—melainkan simbol pengabdian seorang jurnalis dan aktivis pers yang hendak menghadiri momen nasional penting bagi insan pers.
Di balik keberangkatan itu, terselip harapan besar agar semangat HPN 2026 dapat ia bawa pulang ke tanah kelahirannya:
“Pers sehat, ekonomi berdaulat, bangsa kuat.”
Sebuah tema yang ia yakini harus dijaga, terutama oleh wartawan di Kota Pariaman.
Doa yang Tak Pernah Putus
Sebelum melangkah pergi, ia menatap keluarganya sekali lagi—lama, dalam, penuh cinta.
Tak ada kalimat yang lebih kuat dari pesan terakhirnya:
“Patuhlah pada nasihat Ayah. Bantu Bunda. Dan jangan jauh dari Allah.”
Dan di saat pintu mobil tertutup, Bunda Shinta menggenggam tangan kedua anaknya.
Di ruang kecil hati mereka, satu doa yang sama terucap:
“Semoga Ayah kembali dalam keadaan sehat, selamat, dan penuh berkah.”
**.


0 Komentar