32 Tahun Lubuk Basung Jadi Ibu Kota Agam, Nuansa Adat dan Kebersamaan Kental

 

Peringatan tersebut juga dihadiri dua mantan Bupati Agam lintas periode, yakni Drs. H. Aristo Munandar, Dt. Bagindo Kayo, Bupati Agam periode 2000–2010, serta Dr. H. Andri Warman, MM, Bupati Agam periode 2021–2025.


AGAM .Editor— Peringatan 32 tahun penetapan Lubuk Basung sebagai Ibu Kota Kabupaten Agam berlangsung khidmat dan penuh nuansa adat. Momentum bersejarah itu digelar di halaman Kantor Bupati Agam, Senin (21/7/2025).

Berbeda dari peringatan sebelumnya, suasana tahun ini terasa lebih kental dengan budaya Minangkabau. Bupati dan Wakil Bupati Agam bersama jajaran Forkopimda Plus serta kepala OPD mengenakan pakaian adat Minangkabau.

Sebelum upacara dimulai, rombongan Bupati dan Wakil Bupati bersama Forkopimda terlebih dahulu disambut para Niniak Mamak di Masjid Nurul Falah. Dari masjid tersebut, rombongan kemudian berjalan kaki menuju Kantor Bupati Agam dengan iringan tambua tansa, menciptakan suasana adat yang semarak sekaligus penuh makna.

Peringatan tersebut juga dihadiri dua mantan Bupati Agam lintas periode, yakni Drs. H. Aristo Munandar, Dt. Bagindo Kayo, Bupati Agam periode 2000–2010, serta Dr. H. Andri Warman, MM, Bupati Agam periode 2021–2025.

Kehadiran kedua tokoh tersebut menjadi simbol kesinambungan pembangunan Kabupaten Agam dari masa ke masa.

Dalam amanatnya sebagai inspektur upacara, Bupati Agam mengingatkan bahwa penetapan Lubuk Basung sebagai ibu kota Kabupaten Agam pada 19 Juli 1993 bukan sekadar catatan sejarah.

Menurutnya, perjalanan 32 tahun harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pembangunan sekaligus menyiapkan langkah menghadapi tantangan masa depan.

“Lubuk Basung bukan hanya tumbuh sebagai pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga berkembang menjadi simpul kemajuan dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan kebudayaan,” ujar Bupati.

Ia menegaskan, kemajuan Lubuk Basung tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat. Pemerintah memberikan apresiasi kepada tokoh masyarakat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, generasi muda serta seluruh elemen masyarakat yang ikut menjaga dan membangun daerah.

Di tengah perkembangan zaman, Bupati juga mengingatkan adanya berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi digital hingga meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik.

Karena itu, pembangunan Lubuk Basung harus tetap bergerak maju tanpa meninggalkan akar budaya Minangkabau.

“Mari kita jadikan momentum hari jadi ke-32 ini sebagai titik tolak semangat baru untuk membangun Lubuk Basung yang lebih bersih, tertib, berbudaya dan berdaya saing, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau,” tegasnya.

Ia berharap Lubuk Basung terus berkembang menjadi wilayah yang maju, inklusif dan bermartabat serta menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Agam dan Sumatera Barat.

Upacara tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari ASN, pelajar, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan hingga unsur adat dan budaya.

Balutan pakaian adat serta rangkaian prosesi Minangkabau membuat peringatan 32 tahun Lubuk Basung sebagai ibu kota Agam tidak hanya menjadi seremoni pemerintahan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali meneguhkan identitas budaya dan semangat kebersamaan masyarakat Agam.


** Afridon 

Posting Komentar

0 Komentar