Dari Kuli Bangunan ke Kapolres, Didik Berakhir sebagai Tersangka

 

Didim 47 tahun

BIMA KOTA.Editor—Perjalanan panjang karier AKBP Didik Putra Kuncoro semula menjadi kisah inspiratif tentang ketekunan dan kegigihan seorang anak desa dalam menembus ketatnya dunia kepolisian. Namun, perjalanan yang dimulai dari bawah itu berakhir tragis setelah ia ditetapkan sebagai tersangka kasus narkoba dan dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kapolres Bima Kota.

Masa Kecil Sederhana yang Membentuk Karakter

Lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 30 Maret 1979, Didik tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya, seorang guru, dan ibunya yang berperan sebagai ibu rumah tangga, menanamkan disiplin, kejujuran, serta rasa tanggung jawab sejak kecil. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi awal pembentukan karakter Didik.

Sejak duduk di bangku sekolah, Didik dikenal aktif berorganisasi. Ia terlibat dalam OSIS dan Pramuka—dua wadah yang melatih kepemimpinan, kerja sama, serta ketegasan dalam bertindak.

Kegagalan Beruntun dan Masa Kerja Serabutan

Selepas pendidikan menengah, Didik sempat menempuh masa sulit. Upayanya masuk ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) maupun institusi kepolisian gagal berulang kali.

Untuk bertahan hidup, ia bekerja serabutan:

— menjadi kuli bangunan,

— sopir,

— hingga pekerjaan kasar lainnya.

Masa itu menjadi fase terberat sekaligus pembentuk daya tahan mentalnya.

Awal Karier di Kepolisian: Bintara hingga Lulus AKPOL

Tidak menyerah, Didik kembali mengikuti seleksi Polri setahun kemudian dan akhirnya diterima melalui jalur Bintara. Penugasannya dimulai dari Polres Ende, NTT, tempat ia meniti karier dari level paling bawah.

Pada 2001, ia memberanikan diri mengikuti seleksi Akademi Kepolisian (AKPOL). Usahanya kembali membuahkan hasil: ia lulus dan resmi menyandang pangkat perwira pada 2004.

Penugasan pertamanya sebagai perwira dimulai di Gorontalo, sebelum kemudian dipindahkan ke Polda Metro Jaya, salah satu wilayah kerja paling sibuk di Indonesia.

Menjabat di Polda NTB dan Mendapat Kepercayaan Penting

Tahun 2020 menjadi titik baru ketika ia dipindahkan ke Polda Nusa Tenggara Barat (NTB). Di wilayah ini, karier Didik meningkat pesat. Ia dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis:

Kasubdit di Direktorat Reskrimum,

Kasubdit di Ditreskrimsus,

Kasubdit di Ditresnarkoba.

Kepercayaan institusi kepadanya menunjukkan penilaian positif atas kemampuannya menangani kasus kriminal, kasus khusus, hingga narkoba—ironi yang akhirnya menjadi bagian dari kejatuhannya.

Mendapat Amanah sebagai Kapolres Lombok Utara

Pada 2023, Didik dipercaya menjabat Kapolres Lombok Utara. Selama memimpin, ia dikenal aktif turun ke lapangan dan cepat dalam merespons keluhan masyarakat. Kepemimpinannya yang dinilai tegas membuatnya kembali mendapat kepercayaan baru dari institusi.

Diangkat sebagai Kapolres Bima Kota

Setelah satu tahun bertugas, Didik dipromosikan menjadi Kapolres Bima Kota. Ia menggantikan pejabat sebelumnya dan mulai menjalankan agenda penguatan kamtibmas di wilayah yang dikenal rawan konflik sosial.

Akhir Tragis: Dinonaktifkan dan Menjadi Tersangka Narkoba

Namun, puncak karier itu runtuh seketika. Menjelang 2026, Didik ditetapkan sebagai tersangka kasus narkoba dalam penyelidikan internal Polri. Ia resmi dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kapolres Bima Kota, menandai babak kelam dalam perjalanan panjang seorang perwira yang pernah menapaki karier dari bawah.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi institusi dan sekaligus tragedi pribadi bagi seorang perwira yang tadinya dikenal berdedikasi.


**


Posting Komentar

0 Komentar